Ntvnews.id, Jakarta - Hubungan antara Amerika Serikat dan Vatikan dilaporkan memburuk sejak awal tahun, setelah terjadinya pertemuan tertutup yang tidak biasa di lingkungan militer AS.
Beberapa hari setelah Paus Leo XIV menyampaikan pidato “Kondisi Dunia”, seorang pejabat tinggi Pentagon memanggil perwakilan Vatikan di AS untuk menghadiri pertemuan tertutup. Pertemuan tersebut disebut berlangsung dengan nada keras dan penuh tekanan.
Dalam laporan yang beredar, pejabat Pentagon Elbridge Colby menyampaikan pernyataan yang memicu kontroversi.
“Amerika Serikat memiliki kekuatan militer untuk melakukan apa pun yang diinginkannya di dunia. Gereja Katolik sebaiknya berpihak kepadanya,” ujarnya.
Pernyataan itu dinilai sebagai bentuk tekanan langsung terhadap Gereja Katolik, sekaligus menandai memburuknya hubungan kedua pihak.
Baca Juga: Gibran Ucapkan Selamat HUT ke-80 TNI AU, Tekankan Perkuat Kedaulatan Udara
Dalam pertemuan tersebut, seorang pejabat AS juga menyinggung peristiwa sejarah Kepausan Avignon, masa pada abad ke-14 ketika monarki Prancis menundukkan Gereja Katolik, termasuk memaksa paus berpindah dari Roma ke Avignon. Referensi ini dianggap memiliki makna simbolis yang kuat dan ditafsirkan sebagai bentuk intimidasi.
Ketegangan ini dipicu oleh pidato Paus pada 9 Januari yang mengkritik kecenderungan meningkatnya penggunaan kekuatan militer dalam hubungan internasional.
Dalam pidatonya, Paus menyatakan bahwa “diplomasi yang mendorong dialog dan mencari kesepakatan di antara semua pihak kini digantikan oleh diplomasi yang berbasis kekuatan,” serta memperingatkan bahwa “perang kembali menjadi tren, dan semangat untuk berperang semakin menyebar.”
Pidato tersebut kemudian dianalisis secara rinci oleh pejabat Pentagon dan dipandang sebagai kritik langsung terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Pada saat yang sama, langkah-langkah agresif pemerintah AS di panggung global turut memperkuat persepsi tersebut, termasuk tindakan terhadap Iran, sikap terhadap aliansi internasional, serta pernyataan keras terhadap negara-negara sekutu.
Yang membuat peristiwa ini semakin mencolok adalah lokasinya di Pentagon. Tidak ada catatan publik sebelumnya mengenai pertemuan resmi antara pejabat Vatikan dan otoritas AS di markas militer tersebut, apalagi dalam konteks yang sarat tekanan politik.
Baca Juga: Trump Tegaskan Konflik Lebanon Tak Masuk Kesepakatan Gencatan Senjata AS-Iran
Sejumlah pihak di Vatikan bahkan menilai rujukan terhadap Kepausan Avignon sebagai sinyal ancaman penggunaan kekuatan militer terhadap Takhta Suci. Ketegangan ini berdampak pada agenda diplomatik Vatikan. Rencana kunjungan Paus Leo XIV ke Amerika Serikat pada tahun ini dilaporkan dibatalkan.
Situasi juga tidak membaik pada bulan berikutnya, ketika Vatikan menolak undangan Gedung Putih untuk menghadiri perayaan 250 tahun Amerika Serikat. Sebagai gantinya, Paus memilih mengunjungi Lampedusa pada 4 Juli, sebuah pulau kecil di antara Tunisia dan Sisilia yang dikenal sebagai titik kedatangan ribuan migran dari Afrika Utara.
“Robert Francis Prevost adalah sosok yang terlalu penuh pertimbangan untuk memilih tanggal itu secara kebetulan,” ujar Hale.
Pilihan tersebut dinilai mengandung pesan kuat, terutama dalam konteks kritik Vatikan terhadap isu kemanusiaan dan kebijakan global. Pemerintah Amerika Serikat membantah isi laporan yang beredar. Gedung Putih menyatakan bahwa gambaran mengenai pertemuan tersebut telah dilebih-lebihkan.
Mereka menegaskan bahwa karakterisasi yang muncul dalam laporan itu “sangat dilebih-lebihkan dan menyimpang dari kenyataan.”
Paus Leo XIV. ANTARA/Anadolu/py/pri. (Antara)