Ntvnews.id, Jakarta – Pemerintah Iran menyatakan siap mengakhiri kesepakatan gencatan senjata sementara apabila serangan militer Israel terhadap Lebanon terus berlanjut. Sikap ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan kawasan yang belum sepenuhnya mereda pasca konflik besar sebelumnya.
Seorang sumber yang mengetahui perkembangan tersebut menegaskan bahwa Teheran tidak akan ragu menarik diri dari kesepakatan jika pelanggaran terus terjadi.
“Iran akan menarik diri dari perjanjian tersebut jika rezim Zionis terus melanggar gencatan senjata dengan melanjutkan serangannya terhadap Lebanon,” ujar sumber itu, dilansir Tasnim.
Menurut sumber tersebut, pihak Iran kini tengah mengevaluasi kemungkinan keluar dari perjanjian gencatan senjata. Langkah ini dipertimbangkan karena operasi militer Israel dinilai terus melanggar kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya.
Ia juga menekankan bahwa penghentian konflik seharusnya berlaku di semua front, termasuk terhadap kelompok perlawanan di Lebanon. Kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu yang dimediasi Amerika Serikat disebut mencakup penghentian serangan secara menyeluruh. Namun, serangan terbaru Israel pada pagi hari dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap komitmen tersebut.
Baca Juga: Arbeloa: Jika Ada Tim yang Bisa Menang di Muenchen itu Adalah Madrid
Di saat yang sama, pejabat tersebut mengungkapkan bahwa militer Iran tengah menyiapkan respons terhadap serangan terbaru. Penentuan target disebut sedang dilakukan sebagai bagian dari opsi balasan jika situasi terus memburuk.
Ketegangan semakin meningkat setelah pernyataan keras dilontarkan sumber tersebut kepada pihak AS.
“Jika AS tidak mampu mengendalikan anjing gilanya di kawasan ini, Iran akan secara khusus membantunya dalam hal ini! Dan itu akan dilakukan melalui kekerasan,” katanya.
Konflik ini berakar dari operasi militer besar yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran, yang disebut terjadi tanpa provokasi. Serangan tersebut dilakukan setelah terbunuhnya Pemimpin Revolusi Islam, Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat militer senior dan warga sipil pada akhir Februari lalu.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan ke berbagai posisi militer milik AS dan Israel di kawasan. Respons tersebut menunjukkan kapasitas militer Iran yang signifikan dan menyebabkan kerusakan besar, sekaligus memperkuat solidaritas domestik di negara tersebut.
Meski situasi sempat memanas, upaya diplomasi akhirnya menghasilkan gencatan senjata sementara selama dua pekan. Mediasi dilakukan oleh Pakistan, dengan rencana perundingan lanjutan digelar di Islamabad. Iran juga mengajukan proposal sepuluh poin, termasuk tuntutan penarikan pasukan AS, pencabutan sanksi, serta kontrol atas Selat Hormuz.
Pada 8 April, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyebut hasil konflik sebagai “kemenangan bersejarah” yang memaksa AS menerima kerangka negosiasi, termasuk jaminan non-agresi dan penghentian konflik terbuka.
Meski demikian, Iran menegaskan bahwa proses diplomasi bukan berarti akhir dari konflik. Teheran justru melihatnya sebagai kelanjutan pertarungan dalam bentuk lain, dengan tingkat kepercayaan yang rendah terhadap AS.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata tidak mencakup Lebanon. Pernyataan ini bertolak belakang dengan klaim Pakistan sebagai mediator yang sebelumnya menyebut Lebanon termasuk dalam kesepakatan.
Situasi di lapangan juga menunjukkan eskalasi. Meski kelompok Hizbullah tidak melaporkan operasi militer sejak dini hari, Israel justru memperluas perintah evakuasi di wilayah Lebanon hingga lebih dari 40 kilometer, menandakan konflik masih berlangsung.
Peringatan evakuasi tersebut diikuti dengan serangan ke sejumlah lokasi, termasuk wilayah Tyre di selatan Lebanon. Media pemerintah Lebanon melaporkan bahwa beberapa kawasan menjadi target serangan udara, seperti Sidon, Yohmor, Mashghara, hingga Bekaa Barat.
Serangan di Sidon dilaporkan menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai lebih dari 20 lainnya. Selain itu, sejumlah bangunan dan rumah warga di berbagai wilayah turut menjadi sasaran, memperparah dampak kemanusiaan.
Serangan udara juga menyebabkan kerusakan infrastruktur, termasuk terputusnya akses jalan di beberapa daerah. Drone dilaporkan turut digunakan untuk menyerang kendaraan dan target lain di wilayah selatan Lebanon.
Seorang pejabat Lebanon menyatakan bahwa pemerintah setempat tidak pernah menerima pemberitahuan resmi terkait masuknya Lebanon dalam cakupan gencatan senjata. Hal ini semakin memperjelas adanya perbedaan persepsi antar pihak terkait isi kesepakatan tersebut.
Ilustrasi - Bendera nasional Iran dan Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/py/pri.) (Antara)