Ntvnews.id, Moskow - Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIV, menegaskan bahwa ancaman yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran merupakan hal yang tidak dapat diterima.
“Hari ini, seperti yang kita semua ketahui, ada ancaman terhadap seluruh rakyat Iran. Dan ini benar-benar tidak dapat diterima!” kata Paus Leo kepada wartawan di luar Roma, Selasa, 7 April 2026, seperti dikutip Takhta Suci.
“Tentu saja ada masalah hukum internasional di sini, tetapi lebih dari itu, ini adalah pertanyaan moral yang menyangkut kebaikan rakyat secara keseluruhan,” ujar Paus asal Amerika tersebut.
Paus Leo juga menilai konflik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah tidak memberikan solusi, melainkan menyelamatkan situasi yang memicu krisis ekonomi dan energi global.
Baca Juga: Paus Leo XIV Serukan Perdamaian Dunia dalam Pesan Paskah di Vatikan
Ia mendesak semua pihak yang terlibat untuk kembali ke jalur diplomasi dan perundingan, sambil mengingatkan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil dalam konflik bersenjata.
“Mari kita ingat, terutama, orang-orang yang tidak bersalah: anak-anak, orang tua, orang sakit… begitu banyak orang yang telah menjadi, atau akan menjadi, korban dari peperangan yang terus berlanjut ini,” tuturnya.
Lebih lanjut, Paus menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas sipil bertentangan dengan hukum internasional serta mencerminkan dampak destruktif dari konflik.
“Serangan terhadap infrastruktur sipil yang bertentangan dengan hukum internasional, dan itu juga merupakan tanda kebencian, perpecahan, dan kehancuran yang tidak dapat dilakukan manusia,” ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengancam akan menghancurkan “seluruh peradaban” Iran, termasuk kemungkinan menyerang pembangkit listrik dan jembatan jika Teheran tidak membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz serta mencapai kesepakatan dalam batas waktu yang ditentukan.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt yang memperingatkan bahwa Iran bisa “kembali ke Zaman Batu” jika gagal memenuhi tuntutan tersebut.
Baca Juga: 10 Syarat Perdamaian Iran ke AS, dari Pengayaan Uranium hingga Kuasai Selat Hormuz
Ketegangan ini semakin memperparah konflik di Timur Tengah yang bermula dari serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan tersebut.
Awalnya, AS dan Israel menyebut serangan itu sebagai upaya menghadapi ancaman dari program nuklir Iran.
Namun, kemudian muncul pernyataan yang mengindikasikan keinginan untuk mendorong perubahan kekuasaan di Iran.
(Sumber: Antara)
Paus Leo XIV. ANTARA/Anadolu/py/pri. (Antara)