Ntvnews.id, Jakarta - Iran menyodorkan paket proposal perdamaian berisi 10 poin kepada Amerika Serikat sebagai upaya menghentikan konflik kawasan yang telah berlangsung lebih dari sebulan. Dokumen tersebut menegaskan sejumlah tuntutan utama, termasuk pengakuan terhadap program pengayaan uranium Iran serta pencabutan seluruh sanksi yang selama ini diberlakukan.
Salah satu poin kunci dalam proposal itu menekankan bahwa Washington harus menerima hak Iran dalam mengembangkan teknologi nuklirnya. Selain itu, Iran juga meminta penghapusan penuh sanksi ekonomi, baik yang bersifat primer maupun sekunder, yang selama ini menekan perekonomian negara tersebut.
"Kontrol Iran yang berkelanjutan di Selat Hormuz, menyetujui pengayaan uranium, serta mengangkat semua sanksi primer dan sekunder," kata Majelis Keamanan Nasional Tertinggi dalam statementnya, dilansir AFP, Rabu (8/4).
Baca Juga: Iran Buka Selat Hormuz, Donald Trump Tunda Serangan 2 Minggu
Isu pengayaan uranium memang menjadi titik krusial dalam hubungan Iran dan AS sejak lama. Program ini dipandang Iran sebagai bagian penting dari pengembangan nuklirnya, sementara AS selama ini menilainya sebagai ancaman potensial.
Selain tuntutan terkait nuklir dan sanksi, Iran juga memasukkan sejumlah syarat lain dalam proposal tersebut. Di antaranya adalah penarikan seluruh kekuatan militer AS dari kawasan Timur Tengah, penghentian serangan terhadap sekutu-sekutu Iran, serta pembebasan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri. Iran juga menginginkan adanya resolusi dari Dewan Keamanan PBB agar kesepakatan yang dicapai memiliki kekuatan hukum internasional yang mengikat.
Proposal ini disampaikan melalui mediator di Pakistan, yang berperan dalam menjembatani komunikasi kedua pihak di tengah situasi yang memanas. Iran bahkan menyebut jeda konflik saat ini sebagai bentuk kemenangan, sekaligus momentum untuk mendorong penyelesaian diplomatik.
"Perlu dicatat, jika proposal ini disepakati, perlu diadopsi lewat sebuah resolusi yang mengikat di bawah hukum internasional, dan akan jadi sebuah kemenangan diplomatik bagi Iran," kata Majelis Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Baca Juga: Israel Tuduh Iran Luncurkan Rudal ke Wilayahnya Usai Trump Umumkan Gencatan Senjata
Salah satu aspek penting lainnya dalam proposal tersebut adalah terkait Selat Hormuz. Iran menegaskan keinginannya untuk mempertahankan kontrol atas jalur strategis tersebut, yang telah diblokade selama lima pekan sejak konflik berlangsung. Selat Hormuz sendiri memiliki peran vital karena menjadi jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Pengumuman proposal ini muncul di saat-saat krusial, ketika Pakistan memanfaatkan peluang diplomatik menjelang rencana eskalasi militer dari pihak AS. Situasi sempat memanas setelah Presiden Donald Trump disebut mempertimbangkan langkah ekstrem terhadap Iran.
Namun, setelah komunikasi dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, keputusan untuk melanjutkan serangan akhirnya ditunda. Kedua pihak sepakat memberikan ruang waktu dua pekan untuk membuka peluang negosiasi.
"Pada dasarnya, kesepakatan ini berpeluang tercapai untuk negosiasi," kata Trump.
Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei