Ntvnews.id, Teheran (ANTARA) – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa negaranya telah menyiapkan respons atas rencana 15 poin yang diajukan Amerika Serikat
Namun demikian, Baghaei menegaskan bahwa rincian tanggapan tersebut belum akan dipublikasikan dalam waktu dekat dan akan diumumkan pada saat yang dianggap tepat.
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Teheran pada Senin, 6 April 2026, ketika ia menjawab pertanyaan terkait kemungkinan adanya rencana baru antara Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang.
Ia mengungkapkan bahwa beberapa hari sebelumnya, proposal 15 poin dari Washington telah diterima Iran melalui pihak perantara, termasuk Pakistan dan sejumlah negara sahabat lainnya.
Baca Juga: Trump Klaim Punya Rencana Rahasia Akhiri Konflik Iran
"Pada saat itu, kami mengumumkan bahwa rencana tersebut berisi tuntutan yang sangat berlebihan, tidak biasa, dan tidak masuk akal," tutur dia.
Meski demikian, Baghaei menyebut ada sejumlah poin yang masih dapat dipertimbangkan. Iran pun telah menyusun tuntutan balasan berdasarkan kepentingan nasionalnya sendiri.
"Kami sudah tahu sebelumnya apa yang kami inginkan dan garis merah mana yang tidak ingin kami lewati, dan posisi kami kini jelas. Kami telah menyusun respons kami (terhadap rencana gencatan senjata yang diusulkan AS) sejak awal ketika isu ini diangkat, dan akan memberikan informasi mengenai pengumuman tersebut serta cara pengumumannya kapan pun diperlukan," kata Baghaei.
Konflik memanas sejak 28 Februari 2026, ketika Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Iran, termasuk Teheran.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat militer dan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone yang menyasar wilayah Israel serta aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Iran Sampaikan Tuntutan Gencatan Senjata ke AS Lewat Perantara
Dalam perkembangan lain, Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan Wall Street Journal pada Minggu, 5 April 2026, mengancam akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik Iran apabila negara tersebut tidak membuka kembali Selat Hormuz pada Selasa malam, 7 April 2026 waktu setempat.
Di tengah ketegangan tersebut, Amerika Serikat, Iran, dan sejumlah mediator regional dilaporkan tengah membahas kemungkinan gencatan senjata selama 45 hari yang berpotensi menjadi langkah awal menuju penghentian konflik secara permanen.
(Sumber: Antara)
Masyarakat berunjuk rasa sebagai protes atas serangan AS-Israe terhadap Iran di pusat Kota London, Inggris, Sabtu (21/3/2026). (ANTARA/Xinhua/Li Ying) (Antara)