Ntvnews.id , Jakarta - Pemerintah Australia
Menteri Perubahan Iklim dan Energi Australia, Chris Bowen, menyampaikan bahwa pasokan bahan bakar saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sepanjang April hingga memasuki Mei.
“Sekarang kondisinya kita aman sepanjang April hingga Mei. Semua pesanan telah dikunci dan dikontrak. Setelah dikontrak, bahan bakar tersebut menjadi milik perusahaan Australia yang membelinya, sehingga secara hukum telah terjamin. Ini hal yang menggembirakan,” kata Bowen kepada media penyiaran ABC pada Senin, 6 April 2026.
Baca Juga: Bahlil Buka Opsi Impor Minyak dari Rusia Demi Jaga Pasokan BBM
Sebelumnya, otoritas setempat sempat memperkirakan cadangan bahan bakar hanya mencukupi hingga akhir April. Namun, pemerintah kini telah mengambil langkah untuk memastikan keberlanjutan pasokan hingga bulan berikutnya.
Di sisi lain, jumlah stasiun pengisian bahan bakar yang mengalami kehabisan solar di seluruh negeri dilaporkan menurun, dengan total saat ini mencapai 274 lokasi.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah sendiri meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang mengakibatkan kerusakan dan korban sipil.
Sebagai respons, Iran melakukan serangan balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan tersebut.
Eskalasi konflik ini berdampak pada jalur distribusi energi global, termasuk terjadinya blokade de facto di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar internasional.
Kondisi tersebut turut memengaruhi produksi dan ekspor minyak di kawasan Teluk serta mendorong kenaikan harga energi di tingkat global.
(Sumber: Antara)
rsip foto - Orang-orang mengantre untuk mengisi bahan bakar kendaraan mereka di Melbourne, Australia, pada 9 Maret 2026. Serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah memicu lonjakan tajam harga minyak global. ANTARA/Jin Cheng/Xinhua)/pri. (Antara)