Serangan Israel ke Lebanon Picu Penutupan Selat Hormuz

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Apr 2026, 07:25
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Negara-negara Teluk dan Selat Hormuz, jalur perlintasan minyak dunia. /ANTARA/Anadolu/py. Ilustrasi - Negara-negara Teluk dan Selat Hormuz, jalur perlintasan minyak dunia. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Serangan militer Israel ke Lebanon berdampak pada dinamika di Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab itu kembali ditutup oleh Iran.

Serangan Israel ke Lebanon dilaporkan menewaskan sedikitnya 112 orang serta melukai ratusan lainnya. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut operasi tersebut menyasar ratusan anggota Hizbullah di berbagai wilayah Lebanon.

"IDF melakukan serangan mendadak terhadap ratusan anggota Hizbullah di pusat-pusat komando di seluruh Lebanon. Ini adalah pukulan terkonsentrasi terbesar yang diderita Hizbullah sejak Operasi Beepers," kata Katz dalam pernyataan video, merujuk pada operasi besar tahun 2024 terhadap Hizbullah yang melibatkan bom pager dilansir dari AFP, Jumat, 10 April 2026.

Serangan juga mengguncang ibu kota Beirut dan memicu kepanikan warga, dalam salah satu gempuran terberat sejak konflik dengan Hizbullah dimulai. Militer Israel, Israel Defense Forces (IDF), menyatakan operasi ini sebagai "serangan terkoordinasi terbesar di seluruh Lebanon" dan menegaskan bahwa gencatan senjata dua pekan dengan Iran tidak mencakup wilayah Lebanon.

Mengutip CNN, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 112 orang tewas dan 837 lainnya luka-luka akibat serangan di berbagai wilayah, termasuk Beirut.

Baca Juga: Iran Tetapkan 2 Rute Alternatif di Selat Hormuz, Antisipasi Ancaman Ranjau Laut

Di tengah eskalasi tersebut, otoritas Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz setelah serangan Israel terhadap Hizbullah. Laporan ini disampaikan oleh media pemerintah Iran, Fars News Agency.

Meski demikian, dua kapal tanker tetap berhasil melintasi selat tersebut. Data dari MarineTraffic menyebut kapal milik Yunani, NJ Earth, dan kapal berbendera Liberia, Daytona Beach, menjadi yang pertama melintas sejak pengumuman gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.

Namun, laporan penutupan selat itu dibantah oleh Gedung Putih. Mengutip The Hill, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut kabar tersebut tidak benar.

"Presiden telah mengetahui laporan tersebut sebelum saya naik ke podium, itu sama sekali tidak dapat diterima dan sekali lagi, ini adalah kasus di mana apa yang mereka katakan secara publik berbeda dengan apa yang mereka katakan secara pribadi," kata Leavitt kepada wartawan. "Kita telah melihat peningkatan lalu lintas di selat hari ini," imbuhnya.

Arsip - Foto udara menunjukkan Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) <b>(Antara)</b> Arsip - Foto udara menunjukkan Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa negaranya akan terus menggempur Hizbullah "di mana pun diperlukan".

"Kami terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan, ketepatan, dan kegigihan," tulis Netanyahu melalui akun X pribadinya.

"Pesan kami jelas: siapa pun yang bertindak melawan warga sipil Israel -- kami akan menyerang mereka. Kami akan terus menyerang Hizbullah di mana pun diperlukan, sampai kami sepenuhnya memulihkan keamanan bagi penduduk di utara Israel," imbuhnya.

IDF menyebut serangan tersebut sebagai gelombang udara terbesar ke Lebanon, dengan lebih dari 100 pusat komando dan target militer Hizbullah dihantam hanya dalam waktu 10 menit. Wilayah yang menjadi sasaran mencakup pinggiran selatan Beirut, Lebanon selatan, serta Lembah Bekaa di bagian timur.

x|close