Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memerintahkan Angkatan Laut AS untuk melakukan blokade di Selat Hormuz secara efektif mulai Minggu, 12 Apri 2026, tak lama setelah perundingan damai antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, dinyatakan gagal usai 21 jam negosiasi tanpa kesepakatan.
Perintah tersebut disampaikan Trump melalui akun resminya di Truth Social dan langsung memicu eskalasi ketegangan global yang baru.
Dalam unggahannya yang dikonfirmasi sejumlah media internasional, Trump menyatakan: “Efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses pemblokadean semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz.”
Langkah ini menjadi eskalasi militer paling signifikan sejak diberlakukannya gencatan senjata dua pekan sebelumnya pada 8 April. Kebijakan tersebut juga menandai berakhirnya jeda diplomatik dan membuka kembali babak baru konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Dalam perundingan di Islamabad, delegasi AS dipimpin Wakil Presiden J.D. Vance bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Sementara dari pihak Iran, delegasi dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi serta pejabat tinggi lainnya.
Baca Juga: Paus Leo XIV Serukan Hentikan Perang: Cukup Sudah Pamer Kekuasaan!
Usai perundingan, Vance menegaskan tidak tercapai kesepakatan antara kedua pihak. “Kabar buruknya adalah kami tidak mencapai kesepakatan. Dan menurut saya, itu jauh lebih buruk bagi Iran daripada bagi Amerika Serikat. Mereka memilih untuk tidak menerima syarat-syarat kami,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa kegagalan tersebut dipicu oleh tuntutan utama AS terkait penghentian program nuklir Iran. “Kenyataan sederhananya adalah kami membutuhkan komitmen tegas bahwa Iran tidak akan mengejar senjata nuklir dan tidak akan mencari perangkat yang memungkinkan mereka mencapainya dengan cepat,” jelasnya.
Di sisi lain, Iran menilai kegagalan tersebut disebabkan oleh kurangnya kepercayaan terhadap pihak AS. “Tim negosiasi AS gagal mendapatkan kepercayaan delegasi Iran, dan sekarang mereka harus memutuskan apakah mereka bisa mendapatkan kepercayaan kami atau tidak,” kata Ghalibaf.
Arsip Foto - Sebuah kapal komersial berlabuh di lepas pantai Uni Emirat Arab akibat gangguan pelayaran di Selat Hormuz, Senin (2/3/2026). ANTARA/Anadolu/as/am. (Antara)
Menanggapi situasi ini, Trump merinci isi perintah blokade melalui sejumlah unggahan lanjutan. Ia menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk mencegat kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz, termasuk kapal yang membayar biaya kepada Iran.
“Tidak ada yang membayar tol ilegal yang akan mendapat jaminan keselamatan di laut lepas,” tegasnya.
Trump juga menuding Iran melakukan “pemerasan dunia” dengan memasang ranjau laut dan mengintimidasi kapal-kapal yang melintas.
“Iran berjanji membuka Selat Hormuz dan mereka dengan sengaja gagal melakukannya,” tulisnya.
Selain itu, Trump melontarkan ancaman lanjutan terhadap Iran. “Pada saat yang tepat, kami sepenuhnya terkunci dan siap tempur, dan militer kami akan menuntaskan sisa-sisa yang tersisa dari Iran,” ujarnya.
Ia juga memperingatkan secara langsung: “Siapapun dari Iran yang menembaki kami, atau kapal-kapal damai, akan dihancurkan habis.”
Baca Juga: Ini Penyebab Perundingan Damai AS–Iran di Pakistan Gagal
Trump menegaskan bahwa blokade ini bertujuan mengambil alih kendali strategis atas Selat Hormuz agar jalur perdagangan internasional kembali terbuka. “Blokade ini akan segera dimulai. Negara-negara lain akan turut serta. Iran tidak akan diizinkan meraup keuntungan dari tindakan pemerasan ilegal ini,” katanya.
Sementara itu, operasi militer AS sebenarnya telah dimulai sehari sebelumnya. Dua kapal perusak berpeluru kendali, USS Frank E. Petersen Jr. dan USS Michael Murphy, melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari misi pembersihan ranjau.
Komandan Pusat AS, Brad Cooper, menyatakan pihaknya tengah menyiapkan jalur pelayaran baru. “Hari ini kami memulai proses menetapkan jalur lintasan baru dan kami akan segera membagikan jalur aman ini kepada industri maritim untuk mendorong arus perdagangan bebas,” ujarnya.
Iran merespons dengan peringatan keras terhadap kehadiran kapal AS di kawasan tersebut dan menegaskan bahwa mereka tetap memiliki kendali penuh atas jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Ilustrasi - Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)