Ntvnews.id, Jakarta - Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu. Wakil Presiden AS, JD Vance, mengungkapkan bahwa pembicaraan damai yang telah berlangsung belum menghasilkan kesepakatan konkret.
Dalam keterangannya kepada awak media saat berada di Pakistan pada Minggu (12/4), Vance menyebut delegasi AS telah meninggalkan meja perundingan dan bersiap kembali ke Washington. Ia menilai proses negosiasi masih menghadapi sejumlah hambatan signifikan.
Perundingan antara AS dan Iran sendiri baru dimulai pada Sabtu (11/4), menyusul kesepakatan gencatan senjata yang dicapai beberapa hari sebelumnya pada Rabu (8/4). Dialog berlangsung intens selama hampir satu hari penuh, dengan Pakistan berperan sebagai mediator.
Momen ini menjadi pertemuan langsung pertama kedua negara sejak Revolusi Islam Iran 1979. Delegasi AS dipimpin oleh Vance, sementara pihak Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf serta Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Pada awal pertemuan, seorang pejabat Pakistan menggambarkan suasana diskusi berjalan konstruktif.
"Saya dapat mengatakan bahwa diskusi berjalan positif dan suasana secara keseluruhan ramah," ujarnya.
Namun, dinamika berubah seiring berjalannya waktu. Setelah jeda perundingan, sumber lain mengungkapkan bahwa tensi dalam forum meningkat dan situasi menjadi tidak stabil.
"Terjadi perubahan suasana hati dari kedua belah pihak. Suhu naik turun selama pertemuan," ujarnya.
Baca Juga: Kisah Prabowo 34 Tahun Mengabdikan Diri Kembangkan Pencak Silat
Vance kemudian menegaskan adanya kekurangan dalam proses negosiasi, serta menyebut Iran tidak bersedia menerima sejumlah persyaratan yang diajukan Washington.
Di sisi lain, pemerintah Iran melalui pernyataan resminya di platform X menyatakan bahwa sesi pembicaraan telah ditutup dan akan dilanjutkan pada tahap berikutnya melalui pertukaran dokumen teknis antar ahli. Meski demikian, Teheran mengakui bahwa sejumlah perbedaan mendasar masih belum terselesaikan.
"Negosiasi akan berlanjut meskipun masih ada beberapa perbedaan," demikian pernyataan pemerintah Iran.
Sebelum perundingan dimulai, seorang pejabat tinggi Iran mengungkapkan bahwa pencairan aset Teheran yang dibekukan di Qatar menjadi salah satu tuntutan utama dalam negosiasi dengan AS. Sumber tersebut bahkan mengklaim bahwa Washington telah menyetujui pelepasan dana bernilai miliaran dolar yang tersimpan di berbagai bank luar negeri.
Selain itu, Iran juga mengajukan sejumlah tuntutan lain, termasuk kendali atas Selat Hormuz, kompensasi atas dampak perang, serta penerapan gencatan senjata menyeluruh di kawasan, termasuk Lebanon. Teheran juga ingin memberlakukan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi jalur strategis tersebut.
Isu Selat Hormuz menjadi salah satu titik krusial dalam negosiasi, mengingat perannya yang vital dalam jalur distribusi energi global, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati wilayah tersebut. Iran dilaporkan menutup akses selat itu sejak konflik memanas.
Militer AS sebelumnya menyatakan bahwa dua kapal perangnya telah melintasi kawasan tersebut dan tengah bersiap untuk operasi pembersihan ranjau yang diduga dipasang oleh Iran. Namun, klaim ini dibantah oleh media pemerintah Iran yang menegaskan tidak ada kapal AS yang melintas.
Dengan sejumlah perbedaan yang masih tajam, masa depan perundingan AS–Iran kini berada dalam ketidakpastian, meski kedua pihak sama-sama menyatakan komitmen untuk melanjutkan dialog di tahap berikutnya.
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. ANTARA/Xinhua/Hu Yousong/aa. (Antara)