Prancis Buka Opsi Pengawalan di Selat Hormuz Bersama Negara Lain

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Apr 2026, 07:01
thumbnail-author
Beno Junianto
Penulis & Editor
Bagikan
Arsip foto - Kapal tanker minyak Inggris "Stena Impero" di dekat Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Xinhua/HO-ISNA/Morteza Akhoundi/aa. Arsip foto - Kapal tanker minyak Inggris "Stena Impero" di dekat Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Xinhua/HO-ISNA/Morteza Akhoundi/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Pertahanan Prancis Catherine Vautrin mengatakan proses perencanaan tengah berlangsung atas inisiatif Prancis yang melibatkan sekitar 20 negara untuk membahas kemungkinan pengawalan kapal saat melintasi Selat Hormuz jika diperlukan.

“Ada proses perencanaan yang sedang berjalan yang diprakarsai Prancis, melibatkan sekitar 20 negara, untuk menilai bagaimana kapal dapat melintasi selat tersebut dengan pengawalan jika diperlukan,” ujar Catherine Vautrin kepada penyiar LCI, Jumat.

Ia menegaskan bahwa prioritas utama tetap pada memastikan kebebasan navigasi melalui koordinasi diplomatik dengan seluruh pemangku kepentingan terkait, termasuk perusahaan pelayaran dan perusahaan asuransi.

Vautrin mengatakan inisiatif tersebut dikembangkan bersama negara-negara mitra sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengamankan jalur pelayaran.

Ia menambahkan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial global yang menangani sekitar 20 persen arus perdagangan dunia.

Menteri tersebut juga menyoroti ketegangan kawasan yang lebih luas, dengan menyebut gencatan senjata saat ini sebagai “sangat rapuh” dan memperingatkan perlunya penguatan guna mencapai perdamaian yang berkelanjutan.

Ia juga menyampaikan bahwa situasi di Lebanon masih sangat mengkhawatirkan serta menyatakan dukungan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB yang ditempatkan di negara tersebut, termasuk pasukan Prancis dalam misi UNIFIL.

Ketegangan kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 3.000 orang, termasuk pemimpin tertinggi saat itu Ali Khamenei.

Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS sebagai bentuk pertahanan diri. Iran juga membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump pada Selasa (7/4) mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan, dengan menyebut Iran telah mengajukan proposal 10 poin yang “dapat dijalankan”, sementara negosiasi diharapkan dapat menentukan apakah kesepakatan jangka panjang dapat dicapai.

Sumber: Anadolu

ANTARA

TERKINI

Load More
x|close