Ntvnews.id, Jakarta - Rusia mulai menarik hampir seluruh tenaga kerjanya dari satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Iran, langkah yang menegaskan meningkatnya kekhawatiran keamanan di tengah eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Kepala badan energi atom Rusia, Alexei Likhachev, menyampaikan bahwa proses penarikan staf telah memasuki tahap akhir di fasilitas nuklir Bushehr.
"Kami memulai rotasi terakhir di stasiun Bushehr," kata Alexei Likhachev, dilansir Al Arabiya dan AFP, Selasa (14/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa sebanyak 108 orang telah dievakuasi dari lokasi tersebut. Saat ini, hanya sekitar 20 orang yang masih bertahan, terdiri dari manajemen inti serta personel yang bertugas menjaga keselamatan peralatan di fasilitas tersebut.
Baca Juga: KPK Periksa Pengusaha Rokok Usai Temukan Dokumen di Bea Cukai
PLTN Bushehr Nuclear Power Plant merupakan proyek strategis yang dibangun dan dioperasikan dengan dukungan Rusia. Fasilitas ini berada di wilayah selatan Iran dan memiliki reaktor berkapasitas 1.000 megawatt.
Keputusan penarikan ini tidak lepas dari meningkatnya risiko keamanan akibat potensi serangan udara di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Moskow sebelumnya telah memperingatkan bahwa serangan di sekitar fasilitas tersebut dapat memicu “bencana radiologi yang lebih dahsyat daripada Chernobyl.”
Selama konflik berlangsung, wilayah di sekitar Bushehr dilaporkan telah beberapa kali menjadi sasaran serangan. Setidaknya empat insiden tercatat terjadi di area tersebut. Pada awal bulan ini, sebuah serangan bahkan menewaskan satu orang yang merupakan penjaga fasilitas, meski tidak menimbulkan kerusakan pada reaktor, berdasarkan laporan media pemerintah Iran serta analisis citra satelit oleh International Atomic Energy Agency.
Baca Juga: Momen Keakraban Prabowo dan Putin Saat Antar Kepulangan dari Rusia
Di saat yang sama, ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah militer Amerika Serikat mulai menjalankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Operasi tersebut dilaporkan dimulai pada Senin (13/04) pukul 10.00 ET atau 21.00 WIB.
Melalui United States Central Command, Washington menyatakan bahwa langkah itu dilakukan atas perintah Presiden Donald Trump. Tujuannya adalah untuk mencegah kapal-kapal keluar-masuk pelabuhan Iran di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman, khususnya di sekitar Selat Hormuz.
Sebagai respons, Teheran memperingatkan bahwa tidak ada pelabuhan di kawasan tersebut yang akan aman jika keamanan nasional Iran terus terancam.
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (Canva)