Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kebijakan baru untuk membuka kembali Selat Hormuz secara permanen. Keputusan ini disampaikan di tengah kondisi yang sempat memanas, setelah jalur pelayaran strategis tersebut berada di bawah blokade militer ketat sejak awal pekan.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui media sosial dan dikutip The Independent, Kamis, 16 April 2026, Trump menyebut bahwa langkah tersebut diambil usai komunikasi intensif dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. Ia juga mengklaim bahwa pemerintah Tiongkok menyambut positif kebijakan tersebut. Hubungan kedua pemimpin disebut semakin mencair, bahkan Trump sempat berseloroh bahwa Xi akan memberikan sambutan hangat saat pertemuan resmi dalam beberapa pekan mendatang.
"China sangat senang bahwa saya membuka Selat Hormuz secara permanen. Saya melakukannya untuk mereka juga - dan untuk dunia. Situasi ini tidak akan pernah terjadi lagi,” tulis presiden AS itu dalam sebuah unggahan di Truth Social.
Salah satu poin penting dalam kesepakatan tersebut adalah sikap Tiongkok yang disebut bersedia lebih tegas terhadap Iran. Trump mengungkapkan bahwa Beijing sepakat untuk tidak mengirimkan bantuan senjata ke Teheran. Komitmen ini dinilai signifikan dalam meredakan ketegangan kawasan, mengingat Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang utama Iran.
Baca Juga: Dari Memulung ke Sekolah Rakyat, Fikri Temukan Lagi Senyum dan Harapan Baru
Trump menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz dilakukan demi menjaga stabilitas global, bukan hanya untuk kepentingan Amerika Serikat atau Tiongkok. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak mentah dunia, dan penutupannya dalam beberapa hari terakhir sempat memicu kekhawatiran akan potensi krisis energi global. Ia juga memastikan bahwa kondisi serupa tidak akan terulang di masa depan.
Sebelum pengumuman ini, situasi di Selat Hormuz memang berada dalam kondisi tegang. Blokade dimulai pada Senin (13/4/2026) sebagai respons atas gagalnya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad pada akhir pekan sebelumnya. Kegagalan tersebut mendorong AS mengambil langkah militer lebih tegas untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran dalam proses negosiasi.
Selama periode blokade, militer AS mengklaim telah menguasai jalur maritim di kawasan Timur Tengah. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengerahkan berbagai kekuatan militer untuk menutup akses keluar-masuk pelabuhan Iran. Namun, klaim dominasi penuh tersebut sempat diragukan setelah muncul laporan adanya kapal tanker yang tetap berhasil melintas di wilayah yang dibatasi.
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. /ANTARA/Anadolu/Kyle Mazza/pri. (Antara)
Di sisi lain, Iran merespons tekanan tersebut dengan mencari alternatif. Kantor berita Mehr News Agency melaporkan bahwa pemerintah Teheran menginstruksikan penggunaan pelabuhan alternatif guna menjaga aktivitas ekspor-impor tetap berjalan di tengah blokade.
Menariknya, di tengah wacana pembukaan jalur laut dan meredanya tensi, laporan dari The Washington Post menyebutkan bahwa AS tetap menyiapkan pengiriman ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun jalur diplomasi mulai ditempuh, Amerika Serikat tetap mempertahankan kesiapan militernya untuk menjaga posisi tawar.
Kini, perhatian dunia tertuju pada implementasi pembukaan Selat Hormuz serta dampak jangka panjangnya terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi global.
Ilustrasi - Arsip foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 menunjukkan kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh kapal cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Xinhua/HO-ISNA/Morteza Akhoundi/aa) (Antara)