Ntvnews.id, Washington D.C - Sejumlah kota di Amerika Serikat diramaikan aksi demonstrasi bertajuk “No Kings” yang menentang kepemimpinan Presiden Donald Trump, yang dinilai cenderung otoriter.
Dilansir dari AFP, Senin, 30 Maret 2026, aksi tersebut berlangsung pada Minggu, 29 Maret 2026 waktu setempat. Penyelenggara menyebut sedikitnya 8 juta orang berpartisipasi dalam lebih dari 3.300 aksi yang tersebar di seluruh 50 negara bagian, mulai dari kota besar hingga wilayah kecil.
Aksi ini menjadi yang ketiga dalam kurun waktu kurang dari satu tahun dalam gerakan akar rumput “No Kings”, yang berkembang sebagai bentuk oposisi paling vokal terhadap Trump sejak ia memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025.
Di New York City, puluhan ribu orang turun ke jalan, termasuk aktor peraih Oscar Robert De Niro, yang dikenal sebagai salah satu pengkritik keras Trump.
Demonstrasi juga berlangsung luas dari Atlanta hingga San Diego. Para peserta menyuarakan kekhawatiran bahwa konstitusi berada dalam ancaman.
"Tidak ada negara yang dapat memerintah tanpa persetujuan rakyat," kata veteran militer berusia 36 tahun, Marc McCaughey, kepada AFP di Atlanta.
"Kami di sini karena kami merasa Konstitusi terancam dalam berbagai cara. Keadaan tidak normal. Keadaan tidak baik," ucapnya.
Di West Bloomfield, warga tetap turun ke jalan meski suhu berada di bawah titik beku. Sementara di Washington, D.C., ribuan demonstran memadati kawasan National Mall sambil membawa spanduk bertuliskan “Trump Harus Mundur Sekarang!” dan “Lawan Fasisme”.
"Dia terus berbohong dan berbohong dan berbohong dan berbohong, dan tidak ada yang mengatakan apa pun. Jadi ini situasi yang mengerikan yang kita alami," kata seorang pensiunan berusia 67 tahun, Robert Pavosevich kepada AFP.
Gelombang protes anti-Trump bahkan meluas ke luar negeri, dengan aksi serupa digelar di sejumlah kota Eropa seperti Amsterdam, Madrid, dan Roma yang diikuti sekitar 20 ribu orang di bawah pengamanan ketat.
Demo Tolak Presiden Donald Trump (AP Photo)
Gerakan “No Kings” pertama kali muncul pada Juni tahun lalu, bertepatan dengan ulang tahun Trump ke-79 dan parade militer di Washington. Saat itu, jutaan orang ikut serta dalam aksi dari New York hingga San Francisco. Aksi kedua pada Oktober disebut diikuti sekitar 7 juta orang, sementara gelombang terbaru ini menambah jutaan partisipan lainnya.
Namun, sejumlah aksi tidak sepenuhnya berjalan damai. Di West Palm Beach, puluhan pendukung Trump terlibat adu mulut dengan demonstran “No Kings” sebelum dipisahkan oleh aparat kepolisian.
Selain itu, di Los Angeles, polisi mengeluarkan perintah pembubaran setelah aksi berlangsung beberapa jam. Aparat juga sempat menggunakan gas air mata untuk mengendalikan situasi di pusat kota.
Baca Juga: Polda Metro Jaya Hormati Putusan Bebas Delpedro Marhaen dalam Kasus Demonstrasi 2025
Ketegangan juga terjadi di sekitar pusat penahanan federal, lokasi yang kerap menjadi titik bentrokan sejak kebijakan imigrasi ketat diberlakukan. Sementara itu di Denver, aparat menyatakan demonstrasi sebagai pertemuan ilegal setelah sebagian massa memblokir jalan dan tidak membubarkan diri. Sedikitnya sembilan orang dilaporkan ditangkap karena melempar benda ke arah petugas.
Secara keseluruhan, penyelenggara menyebut aksi ini sebagai “protes tanpa kekerasan satu hari terbesar dalam sejarah Amerika modern”, dengan jutaan warga turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan terhadap kebijakan pemerintah serta menyerukan perubahan arah kepemimpinan nasional.
Aksi Demo Terbesar di Amerika (Instagram)