Serangan AS-Israel Picu Krisis Pengungsi, Jutaan Warga Iran dan Lebanon Tinggalkan Rumah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Mar 2026, 09:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Bangunan runtuh setelah serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, pada 6 Maret 2026. ANTARA/Xinhua/Bilal Jawich. Bangunan runtuh setelah serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, pada 6 Maret 2026. ANTARA/Xinhua/Bilal Jawich. (Antara)

Ntvnews.id, Beirut - Sekitar tiga juta warga Iran dan sedikitnya satu juta warga Lebanon terpaksa mengungsi akibat serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel.

Dilansir dari Al Jazeera, Jumat, 27 Maret 2026, perang yang dipicu oleh AS dan Israel telah menewaskan lebih dari 1.500 orang di Iran. Jumlah tersebut dinilai masih konservatif karena data resmi dari otoritas terkait belum sepenuhnya dirilis.

Selain korban jiwa, dampak konflik juga memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Badan pengungsi PBB, UNHCR, memperkirakan sekitar 3,2 juta orang telah mengungsi di Iran sejak serangan dimulai pada 28 Februari, atau lebih dari 3 persen populasi negara tersebut.

Hampir satu bulan sejak konflik berlangsung, lembaga bantuan dan negara-negara yang berbatasan dengan Iran mulai bersiap menghadapi potensi krisis pengungsi, seiring meningkatnya jumlah warga sipil yang melarikan diri dari wilayah terdampak.

Di Afghanistan, sebagian besar pendatang merupakan warga Afghanistan yang kembali dari Iran, baik karena alasan keamanan maupun pemulangan paksa. Sementara itu, Pakistan hanya melaporkan kedatangan warga negara dan pedagang yang diizinkan, tanpa lonjakan signifikan pengungsi.

Baca Juga: Israel Akui Warga Sipilnya Tewas Akibat Tembakan Sendiri di Perbatasan Lebanon

Irak mencatat kepulangan dalam jumlah terbatas, dengan sekitar 325 warga Iran melintasi perbatasan akibat krisis. Di dalam Iran sendiri, banyak warga harus meninggalkan rumah yang hancur, sementara sejumlah fasilitas penting seperti rumah sakit, instalasi nuklir, kilang minyak, dan pabrik desalinasi turut terdampak.

Tekanan di lapangan terus meningkat, dengan lebih dari 85.176 lokasi sipil dilaporkan rusak sejak konflik pecah, termasuk ratusan fasilitas kesehatan, sekolah, serta puluhan ribu rumah.

Di ibu kota Teheran, pemerintah kota melaporkan hampir 14.000 unit hunian mengalami kerusakan, dan sedikitnya 6.000 warga telah ditampung di hotel-hotel.

Sementara itu di Lebanon, lebih dari satu juta orang juga mengungsi. Konflik yang meluas dengan cepat turut memicu krisis kemanusiaan di negara tersebut.

Arsip foto - Bendera nasional Lebanon (kanan) dan bendera Hizbullah. Furkan G&uuml;ldemir. ANTARA/Anadolu Agency/pri. <b>(Antara)</b> Arsip foto - Bendera nasional Lebanon (kanan) dan bendera Hizbullah. Furkan Güldemir. ANTARA/Anadolu Agency/pri. (Antara)

Militer Israel memperluas perintah evakuasi paksa bagi warga di wilayah Lebanon selatan, dari Sungai Litani hingga ke utara Sungai Zahrani, sekitar 40 kilometer dari perbatasan Israel. Menurut Dewan Pengungsi Norwegia, area evakuasi kini mencakup lebih dari 1.470 kilometer persegi atau sekitar 14 persen wilayah Lebanon.

Pasukan darat Israel juga memperluas kehadiran mereka di sebagian wilayah selatan Lebanon, dengan alasan menciptakan apa yang mereka sebut sebagai "zona penyangga".

Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi, jumlah pengungsi terdaftar telah mencapai 1.049.328 orang, dengan lebih dari 132.000 di antaranya tinggal di penampungan kolektif.

Baca Juga: PBB: Sepertiga Pengungsi di Lebanon Anak-anak, Serangan Israel Terus Meningkat

Namun, kapasitas penampungan yang terbatas membuat banyak keluarga tidak mendapatkan tempat tinggal. Mereka terpaksa bermalam di jalanan, kendaraan, atau ruang publik karena fasilitas yang tersedia telah penuh.

Dalam dua pekan terakhir, lebih dari 250.000 orang dilaporkan meninggalkan Lebanon, meningkat sekitar 40 persen dibandingkan periode sebelumnya. Sebagian besar pengungsi bergerak menuju negara tetangga, Suriah.

Hingga 17 Maret, lebih dari 125.000 orang telah melintasi perbatasan, hampir separuhnya merupakan anak-anak. Mayoritas adalah warga negara Suriah, dengan sekitar 7.000 warga Lebanon juga termasuk dalam arus tersebut.

x|close