Ntvnews.id, Jakarta - Kelompok militan Houthi di Yaman menyatakan kesiapan untuk kembali membuka front serangan di Laut Merah dengan menyasar Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pernyataan ini mempertegas posisi mereka yang berada di garis dukungan terhadap Iran di tengah konflik yang terus berkembang di kawasan Timur Tengah.
Houthi, yang dikenal memiliki hubungan erat dengan Iran, sebelumnya telah melakukan serangkaian aksi di Laut Merah yang berdampak besar terhadap stabilitas pelayaran global. Gangguan tersebut sempat memicu kekacauan pada rantai perdagangan internasional, terutama selama berlangsungnya krisis Gaza.
Mengutip laporan Reuters pada Jumat (27/3/2026), potensi eskalasi baru oleh Houthi di kawasan strategis ini dinilai berisiko memperparah krisis minyak sekaligus mengguncang perekonomian global yang sudah terdampak perang.
"Kami siap menyerang jalur maritim penting itu lagi sebagai bentuk solidaritas dengan Teheran," kata seorang pejabat Houthi yang tidak disebut namanya kepada Reuters.
Baca Juga: DPR Dukung Pembatalan Sekolah Daring, Ini Alasannya...
Fokus ancaman tersebut mengarah pada Selat Bab al-Mandab, jalur sempit di lepas pantai Yaman yang memiliki peran krusial dalam mengatur arus pelayaran dunia, khususnya sebagai penghubung menuju Terusan Suez. Jika jalur ini terganggu, distribusi energi dan barang global berpotensi mengalami hambatan serius.
Di sisi lain, situasi semakin kompleks setelah Iran dilaporkan secara efektif menutup Selat Hormuz di Teluk Persia sejak konflik pecah pada akhir bulan lalu. Kondisi ini membuat jalur alternatif seperti Laut Merah menjadi semakin vital dan sekaligus rentan terhadap tekanan militer.
"Kami sepenuhnya siap secara militer dengan semua opsi. Adapun hal yang berkaitan dengan penentuan waktu yang tepat, itu diserahkan kepada pimpinan," kata pejabat Houthi itu.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keputusan untuk melancarkan serangan tinggal menunggu waktu yang dianggap paling strategis. Bahkan, keyakinan terhadap posisi Iran dalam konflik juga ditegaskan oleh pihak Houthi.
Baca Juga: Pelatih St Kitts and Nevis Tak Gentar Hadapi Atmosfer GBK
"Sampai sekarang Iran melawan dengan baik dan mengalahkan musuh setiap hari dan pertempuran berjalan sesuai keinginan mereka," katanya.
Sejumlah diplomat dan analis menilai bahwa Houthi saat ini tengah menghitung momentum terbaik untuk masuk lebih dalam ke konflik, dengan tujuan memberikan tekanan maksimal terhadap lawan-lawan Iran.
Dalam konteks ini, penutupan Selat Hormuz terhadap ekspor hidrokarbon dari negara-negara Teluk serta kemungkinan peralihan jalur ekspor minyak ke Laut Merah dinilai membuka peluang strategis bagi Houthi untuk meningkatkan pengaruhnya.
Selat Bab al-Mandab sendiri memiliki lebar sekitar 29 kilometer pada titik tersempit, yang membuat lalu lintas kapal terbagi dalam dua jalur utama untuk arus masuk dan keluar. Kondisi geografis ini menjadikannya salah satu titik paling rentan sekaligus krusial dalam jalur perdagangan energi global.
Kelompok bersenjata yang setia kepada kelompok Houthi berpartisipasi dalam unjuk rasa suku yang mendukung dimulainya kembali serangan terhadap kapal-kapal Israel, di Sanaa, Yaman, pada 11 Maret 2025. (Antara)