Ntvnews.id, Washington D.C - Pemerintah Amerika Serikat memperingatkan Iran agar segera menerima kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah. Gedung Putih bahkan menegaskan bahwa Presiden Donald Trump siap mengambil langkah militer lebih jauh.
"Jika Iran gagal menerima realitas saat ini, jika mereka gagal memahami bahwa mereka telah dikalahkan secara militer dan akan terus mengalami hal tersebut, Presiden Trump akan memastikan mereka dipukul lebih keras daripada sebelumnya," ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dilansir dari AFP, Kamis, 26 Maret 2026.
Ia menyebutkan bahwa Trump siap melancarkan serangan lanjutan dan mendesak Iran untuk mempertimbangkan tawaran kesepakatan yang ada.
"Presiden Trump tidak sedang menggertak dan Ia siap untuk melepaskan neraka. Iran tidak boleh melakukan salah perhitungan lagi," ujarnya.
Baca Juga: Survei: Kepuasan Publik terhadap Trump Turun ke 36 Persen
Di tengah meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat juga mengajukan proposal gencatan senjata. Informasi ini pertama kali diungkap oleh The New York Times yang mengutip dua pejabat Washington yang mengetahui detail rancangan tersebut.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa proposal gencatan senjata terdiri dari 15 poin dan telah disampaikan kepada pihak Iran melalui Pakistan. Bahkan, Islamabad dikabarkan siap menjadi tuan rumah bagi perundingan lanjutan antara Washington dan Teheran.
Meski demikian, rincian lengkap dari rencana tersebut belum dipublikasikan. Media Israel, Channel 12, melaporkan bahwa Amerika Serikat mengusulkan gencatan senjata selama satu bulan guna membahas poin-poin tersebut lebih lanjut.
Presiden Amerika Serikat (US), Donald Trump. ANTARA/Andolu/pri. (Antara)
Rencana tersebut disebut mencakup sejumlah isu utama, seperti penghentian program nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi, serta pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.
Namun, pemerintah Iran merespons sinis tawaran tersebut. Teheran bahkan mencemooh upaya Washington dalam mendorong kesepakatan damai.
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa Amerika Serikat pada akhirnya hanya akan bernegosiasi dengan dirinya sendiri.
Baca Juga: Trump Klaim Bahas dengan Tokoh Iran, Ancam Lanjutkan Serangan Jika Negosiasi Gagal
"Kekuatan strategis yang dulu Anda bicarakan, telah berubah menjadi kegagalan strategis," kata Zolfaghari.
"Negara yang mengklaim sebagai negara adidaya global pasti sudah keluar dari kekacauan ini jika memang mampu. Jangan menyamarkan kekalahan Anda sebagai kesepakatan. Era janji-janji kosong Anda telah berakhir," tegasnya.
Pernyataan saling serang ini mencerminkan tingginya tensi antara kedua negara, di tengah upaya diplomasi yang masih belum menunjukkan titik terang untuk mengakhiri konflik.
Arsip Foto - Donald Trump saat berbicara dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di National Harbor, Maryland, Amerika Serikat, Jumat (15/3/2013). ANTARA/Flickr/Gage Skidmore/am. (Antara)