Ntvnews.id, Riyadh - Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dilaporkan semakin mendekat untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Israel dalam menghadapi Iran. Situasi ini berkembang di tengah serangan berulang dari Teheran yang mengguncang perekonomian negara-negara Teluk serta berpotensi memperkuat pengaruh Iran di Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan The Wall Street Journal yang dikutip dari Anadolu Agency, Rabu, 25 Maret 2026, langkah-langkah terbaru dari sekutu di Timur Tengah mulai mendukung kemampuan Washington dalam melancarkan serangan udara serta membuka jalur baru untuk menekan keuangan Iran. Meski demikian, mereka belum secara terbuka mengerahkan pasukan militer ke medan perang.
Walau negara-negara Teluk menegaskan tidak ingin terlibat langsung dalam konflik bersenjata dengan Iran, tekanan terus meningkat seiring ancaman Teheran untuk memperluas pengaruhnya di kawasan kaya energi tersebut.
Arab Saudi dilaporkan telah memberikan izin kepada pasukan AS untuk menggunakan Pangkalan Udara King Fahd yang berada di wilayah barat Semenanjung Arab.
Baca Juga: Iran Pastikan Selat Hormuz Boleh Dilintasi, Kecuali Buat Kapal AS dan Israel
Sebelumnya, Riyadh menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara atau fasilitasnya digunakan untuk menyerang Iran. Namun, sikap itu mulai berubah setelah serangan rudal dan drone Iran yang berulang kali menghantam ibu kota Riyadh serta fasilitas energi Saudi.
"Kesabaran Arab Saudi terhadap serangan Iran tidak terbatas," kata Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan kepada wartawan pekan lalu setelah rentetan serangan terhadap infrastruktur energi Teluk. "Keyakinan bahwa negara-negara Teluk tidak mampu merespons adalah kesalahan perhitungan."
Laporan tersebut juga menyebut Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, tengah berupaya memulihkan daya gentar negaranya dan hampir mengambil keputusan untuk bergabung dalam operasi militer. Seorang sumber menyatakan kepada WSJ bahwa "hanya masalah waktu sebelum kerajaan memasuki perang."
Kapal patroli Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz. (ANTARA/Xinhua) (Antara)
Memasuki hampir satu bulan konflik, Uni Emirat Arab mulai menindak aset-aset milik Iran, yang berpotensi mengganggu jalur penting bagi kepentingan Teheran. Di saat yang sama, Abu Dhabi juga mempertimbangkan kemungkinan mengirimkan pasukan serta menolak opsi gencatan senjata yang masih memungkinkan Iran mempertahankan sebagian kekuatan militernya.
UEA dilaporkan telah menutup sejumlah fasilitas yang terkait dengan Iran di Dubai, termasuk Rumah Sakit Iran dan Klub Iran. Saluran komunikasi fasilitas tersebut tidak lagi aktif, dan otoritas kesehatan setempat memastikan operasionalnya telah dihentikan.
"Institusi-institusi tertentu yang terkait langsung dengan rezim Iran dan IRGC akan ditutup berdasarkan tindakan yang ditargetkan setelah ditemukan telah disalahgunakan untuk memajukan agenda yang tidak melayani rakyat Iran, dan melanggar hukum UEA," kata pejabat pemerintah dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga: NATO Desak Selat Hormuz Segera Dibuka
Sebagai pusat keuangan yang selama ini menjadi jalur bisnis Iran, UEA juga memperingatkan kemungkinan pembekuan aset Iran senilai miliaran dolar. Langkah tersebut berpotensi membatasi akses Teheran terhadap mata uang asing dan jaringan perdagangan global, serta memperburuk kondisi ekonominya yang telah tertekan akibat inflasi dan sanksi.
Serangan terbaru terhadap fasilitas energi di Arab Saudi, Kuwait, UEA, dan Qatar semakin memperkuat solidaritas negara-negara Teluk dalam menghadapi Iran. Qatar bahkan mengecam serangan tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam keamanan nasionalnya.
Di tengah perkembangan ini, sekutu-sekutu di Timur Tengah terus berkoordinasi dengan pemerintahan Donald Trump terkait langkah berikutnya dalam konflik. Para analis menilai, jika Iran terus melancarkan serangan, negara-negara Teluk kemungkinan tidak memiliki banyak pilihan selain ikut terlibat langsung dalam perang.
Selat Hormuz (Republic World)