Ntvnews.id, Seoul - Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, dalam percakapan telepon dengan Menlu Oman, Badr al-Busaidi, meminta dukungan Oman dalam penyediaan sumber energi, termasuk gas alam cair (LNG) dan minyak mentah.
DIlansir dari Yonhap, Rabu, 25 Maret 2026, pemerintah Korea Selatan sebelumnya telah meningkatkan status kewaspadaan terhadap potensi gangguan pasokan minyak ke level dua dari empat tingkat pada 18 Maret, seiring meningkatnya krisis di Timur Tengah serta blokade de facto di Selat Hormuz.
Selain itu, Korea Selatan juga telah mengamankan pasokan prioritas sebesar 18 juta barel minyak dari Uni Emirat Arab, sebagaimana disampaikan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan dalam pernyataannya pada Selasa.
Tak hanya membahas energi, kedua menteri juga bertukar pandangan mengenai perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Korea Selatan Perketat Pembatasan Kendaraan untuk Antisipasi Krisis Energi
Cho Hyun menyampaikan apresiasi atas peran Oman dalam mendukung operasi unit angkatan laut Cheonghae yang ditempatkan di kawasan tersebut, sekaligus meminta bantuan otoritas Oman apabila diperlukan proses evakuasi warga Korea Selatan dari wilayah konflik.
Kedua pihak sepakat untuk terus memperkuat komunikasi dan kerja sama guna mempercepat terciptanya kembali perdamaian serta stabilitas keamanan di Timur Tengah.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang mengakibatkan korban sipil.
Arsip foto - Seorang anggota Marinir AS mengamati sebuah kapal penyerang cepat Iran dari USS John P. Murtha di Selat Hormuz dalam gambar yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada 18 Juli 2019. (ANTARA FOTO/HO-U.S. Navy/Donald Holbert/wsj/aa.) (Antara)
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut memicu blokade de facto di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan LNG dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Dampaknya, ekspor dan produksi minyak di kawasan terganggu sehingga mendorong lonjakan harga energi dunia.
Bendera Korea Selatan (pixabay.com )