Turki Tawarkan Mediasi AS dan Iran untuk Lanjutkan Pembicaraan Nuklir

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Mar 2026, 08:25
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Tim penyelamat dan warga lokal berupaya menyelamatkan korban luka dari reruntuhan di sebuah sekolah khusus perempuan yang diserang di Minah, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, pada Sabtu 28 Februari 2026. (ANTARA/Xinhua/Mehr News Agency) Tim penyelamat dan warga lokal berupaya menyelamatkan korban luka dari reruntuhan di sebuah sekolah khusus perempuan yang diserang di Minah, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, pada Sabtu 28 Februari 2026. (ANTARA/Xinhua/Mehr News Agency) (Antara)

Ntvnews.id, Ankara - Turki menawarkan diri menjadi mediator antara Amerika Serikat dan Iran untuk melanjutkan kembali pembicaraan mengenai program nuklir Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Menurut sumber diplomatik Turki yang dikutip RIA Novosti, Selasa, hingga saat ini belum ada langkah konkret dari kedua pihak untuk memulai kembali perundingan tersebut.

“Pihak Turki telah menawarkan jasa mediasi kepada AS dan Iran, tetapi sejauh ini belum ada langkah nyata yang dapat mengarah pada pemulihan proses perundingan,” ujar sumber tersebut.

Baca Juga: Iran Ancam Targetkan Reaktor Nuklir Israel

Sehari sebelumnya, portal berita Middle East Eye melaporkan bahwa Ankara juga mengusulkan gencatan senjata sementara di Timur Tengah sebagai langkah awal menuju proses negosiasi yang lebih luas.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak  Sabtu 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban sipil.

Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Amerika Serikat dan Israel pada awalnya menyebut serangan tersebut sebagai langkah “pencegahan” terhadap ancaman program nuklir Iran, namun kemudian menyatakan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran.

Baca Juga: Serangan Iran Kembali Hantam Ibu Kota Israel, Bangunan Rusak dan Enam Orang Luka

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan gugur pada hari pertama operasi militer tersebut, dan Republik Islam Iran menetapkan masa berkabung selama 40 hari.

(Sumber: Antara)

x|close