Oposisi Desak Israel Lanjutkan Perang dengan Iran, Meski Tanpa AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Mar 2026, 20:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Bendera Israel/ist Bendera Israel/ist

Ntvnews.id, Tel Aviv - Pemimpin oposisi Israel Avigdor Lieberman pada Senin, 23 Maret 2026, menyerukan agar operasi militer terhadap Iran tetap diteruskan, bahkan jika Amerika Serikat memilih untuk menarik diri dari konflik tersebut.

Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengungkap adanya pembicaraan konstruktif dengan Teheran.

“Jika Amerika Serikat keluar dari perang, kita harus tetap melanjutkannya. Dari sudut pandang kami, menggulingkan rezim adalah hal yang esensial,” kata Lieberman, yang juga memimpin partai Yisrael Beytenu, dalam pembukaan rapat fraksi partainya, seperti dikutip dari Anadolu, Selasa, 24 Maret 2026.

Lieberman turut mengkritik keras pemerintah Israel yang dianggapnya terlalu fokus pada agenda domestik, khususnya pembahasan legislasi, di tengah situasi keamanan yang masih genting.

Baca Juga: Erick Thohir: FIFA Series 2026 Jadi Momentum Tunjukkan Indonesia Siap Gelar Laga Internasional

“Saat warga di wilayah utara mendengar sirene serangan udara setiap beberapa menit, Knesset justru membahas nasib rakyat Israel dan perluasan kewenangan pengadilan rabinik—ini benar-benar kegilaan,” ujarnya.

Di sisi lain, Trump mengumumkan kebijakan penundaan serangan terhadap fasilitas energi Iran selama lima hari. Langkah tersebut diambil menyusul perkembangan positif dalam pembicaraan antara kedua pihak.

“Saya dengan senang hati melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah, dalam dua hari terakhir, melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif terkait penyelesaian penuh dan menyeluruh atas permusuhan di Timur Tengah,” ujar Trump melalui platform media sosialnya.

Arsip Foto - Donald Trump saat berbicara dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di National Harbor, Maryland, Amerika Serikat, Jumat (15/3/2013). ANTARA/Flickr/Gage Skidmore/am. <b>(Antara)</b> Arsip Foto - Donald Trump saat berbicara dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di National Harbor, Maryland, Amerika Serikat, Jumat (15/3/2013). ANTARA/Flickr/Gage Skidmore/am. (Antara)

Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada arah dan nuansa dari pembicaraan yang mendalam, rinci, dan konstruktif tersebut, yang akan terus berlanjut sepanjang pekan ini, sehingga Departemen Pertahanan diminta menunda serangan ke infrastruktur energi Iran untuk sementara waktu.

Trump menegaskan bahwa jeda ini bergantung pada perkembangan negosiasi yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Kilang Minyak Terbesar di Amerika Serikat Terbakar

Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari. Konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah wilayah lain seperti Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan sektor penerbangan.

x|close