AS Tekan Negara Arab Bayar Triliunan Dolar Terkait Perang Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Mar 2026, 07:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Bendera Amerika Serikat/ist Bendera Amerika Serikat/ist

Ntvnews.id, Washington D.C - Amerika Serikat dilaporkan meminta negara-negara sekutu di kawasan Arab untuk menyetor dana dalam jumlah sangat besar apabila menginginkan konflik dengan Iran mencapai hasil akhir tertentu. Hal ini diungkapkan oleh seorang jurnalis senior Arab.

Dilansir dari BBC, Selasa, 24 Maret 2026, Analis asal Oman, Salem Al-Jahouri, menyebut bahwa Presiden AS Donald Trump disebut telah “memberikan tekanan” kepada negara-negara Teluk Persia agar mengambil peran lebih besar dalam operasi militer melawan Iran.

“Itu sepenuhnya akurat. Negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (Persia) berada di bawah tekanan yang signifikan, baik dalam hal militer maupun ekonomi,” ujar Jahouri saat menanggapi laporan mengenai tekanan dari Gedung Putih.

Ia menambahkan bahwa muncul informasi yang menyebutkan Presiden AS meminta negara-negara anggota GCC untuk menyediakan dana hingga USD5 triliun (sekitar Rp84.781 triliun) jika ingin perang berlanjut. Sementara itu, jika ingin menghentikan konflik, mereka disebut harus membayar USD2,5 triliun (sekitar Rp42.390 triliun) sebagai kompensasi kepada AS.

Baca Juga: Macron Serukan Penahanan Diri di Tengah Eskalasi, Tegaskan Dukungan ke Arab Saudi

“Sekarang kita melihat kebocoran yang menunjukkan bahwa presiden AS meminta negara-negara (P)GCC untuk menyerahkan sekitar USD5 triliun (Rp84.781 triliun) jika mereka ingin perang ini berlanjut, dan jika mereka ingin menghentikannya, mereka harus membayar USD2,5 triliun (Rp42.390 triliun) kepada Amerika sebagai kompensasi atas apa yang telah dilakukan sejauh ini,” katanya.

Tekanan tersebut muncul di tengah upaya Washington mendorong keterlibatan lebih dalam negara-negara Arab Teluk dalam operasi gabungan AS-Israel terhadap Teheran. Meski demikian, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) secara terbuka menolak perang yang dimulai sejak 28 Februari dan membantah telah memberikan izin penggunaan wilayah mereka untuk serangan militer.

Arsip Foto - Donald Trump saat berbicara dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di National Harbor, Maryland, Amerika Serikat, Jumat (15/3/2013). ANTARA/Flickr/Gage Skidmore/am. <b>(Antara)</b> Arsip Foto - Donald Trump saat berbicara dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di National Harbor, Maryland, Amerika Serikat, Jumat (15/3/2013). ANTARA/Flickr/Gage Skidmore/am. (Antara)

Namun, sejumlah laporan menyebutkan adanya indikasi bahwa militer AS tetap menggunakan wilayah negara-negara Teluk untuk meluncurkan serangan, termasuk penggunaan wilayah udara dalam misi pengeboman ke Iran.

Di sisi lain, Iran telah membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, yang berdampak langsung pada negara-negara Teluk. Kebijakan tersebut memaksa mereka mengurangi produksi minyak dan menghambat distribusi ekspor energi melalui jalur vital tersebut.

Baca Juga: 10.866 Wisatawan Serbu Kepulauan Seribu saat Libur Lebaran 2026

Akibatnya, negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Bahrain mengalami tekanan ekonomi signifikan, terutama dari sektor energi dan pariwisata.

Laporan Reuters juga menyebutkan bahwa beberapa negara Teluk kini tengah meninjau ulang investasi luar negeri mereka yang bernilai triliunan dolar, termasuk komitmen investasi sebesar USD1,2 triliun ke ekonomi AS pascakunjungan Trump ke kawasan tersebut pada Mei 2025.

x|close