Trump Klaim Ultimatum ke Iran Akan Berjalan Lancar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Mar 2026, 19:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu Ajansi/pri) Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu Ajansi/pri) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa hasil dari ultimatum yang ia berikan kepada Iran agar segera membuka kembali Selat Hormuz akan memberikan dampak positif.

Ia bahkan memperkirakan langkah tersebut bisa berujung pada “kehancuran total” bagi Iran apabila tidak dipatuhi oleh Teheran.

"Anda akan segera mengetahuinya. Ini akan sangat baik," kata Trump kepada Channel 13 Israel, seperti dikutip dari Anadolu, Senin, 23 Maret 2026.

Trump sebelumnya memperingatkan bahwa apabila Iran tidak membuka kembali jalur strategis tersebut dalam waktu 48 jam, maka AS akan mengambil tindakan tegas dengan menyerang fasilitas energi Iran.

Ia menegaskan bahwa target awal serangan adalah pembangkit listrik terbesar di negara tersebut, sebagai bagian dari tekanan militer.

Baca Juga: Putin dan Trump Kompak Sampaikan Ucapan Selamat Idulfitri 2026 untuk Umat Muslim

Selain itu, Trump juga melontarkan kritik keras kepada negara-negara anggota NATO yang dinilai tidak memberikan dukungan dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz.

Ia menilai sekutu-sekutu tersebut tidak berbuat apa-apa, bahkan menyebut mereka sebagai pihak yang lemah dalam menghadapi situasi ini.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte meminta agar Trump memahami posisi negara-negara anggota yang enggan terlibat lebih jauh dalam konflik tersebut.

Arsip foto - Seorang anggota Marinir AS mengamati sebuah kapal penyerang cepat Iran dari USS John P. Murtha di Selat Hormuz dalam gambar yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada 18 Juli 2019. (ANTARA FOTO/HO-U.S. Navy/Donald Holbert/wsj/aa.) <b>(Antara)</b> Arsip foto - Seorang anggota Marinir AS mengamati sebuah kapal penyerang cepat Iran dari USS John P. Murtha di Selat Hormuz dalam gambar yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada 18 Juli 2019. (ANTARA FOTO/HO-U.S. Navy/Donald Holbert/wsj/aa.) (Antara)

Di sisi lain, Iran merespons ultimatum tersebut dengan peringatan keras. Teheran menegaskan akan menyerang berbagai infrastruktur penting milik AS dan Israel di kawasan jika fasilitas energi mereka menjadi sasaran serangan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga membantah tudingan bahwa negaranya telah menutup Selat Hormuz. Ia menyebut gangguan yang terjadi lebih disebabkan oleh kekhawatiran perusahaan asuransi terhadap risiko konflik yang meningkat.

Baca Juga: Trump: AS Gak Butuh Bantuan Sekutu di Selat Hormuz!

Sejak awal Maret, aktivitas di Selat Hormuz memang terganggu. Jalur ini merupakan salah satu rute vital perdagangan energi dunia dengan sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap harinya, sehingga ketegangan yang terjadi berdampak langsung pada kenaikan biaya pengiriman dan harga minyak global.

Konflik antara AS, Israel, dan Iran sendiri telah berlangsung sejak 28 Februari dan dilaporkan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar serta memperparah ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.

x|close