Ntvnews.id, Jakarta - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat. Pemerintah Iran menegaskan akan melakukan balasan luas jika AS benar-benar menyerang fasilitas pembangkit listrik mereka.
Pernyataan ini disampaikan oleh Markas Pusat Khatam al-Anbiya pada Minggu, 22 Maret 2026 sebagai respons atas ancaman dari Donald Trump yang berencana menargetkan infrastruktur energi Iran.
Dalam pernyataan resminya, Iran menegaskan bahwa jika fasilitas listrik mereka diserang, maka pembangkit listrik di negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS akan dianggap sebagai target sah.
Pernyataan tersebut dilaporkan oleh Islamic Republic of Iran Broadcasting, yang menyoroti potensi eskalasi konflik ke skala lebih luas.
Iran juga menegaskan bahwa Selat Hormuz saat ini belum ditutup sepenuhnya, namun berada dalam pengawasan ketat. Jalur vital ini tetap dibuka secara terbatas untuk pelayaran yang dianggap aman dan sesuai dengan kepentingan nasional Iran.
Misi permanen Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Sabtu (26/10/2024) menuduh Amerika Serikat (AS) terlibat dalam serangan udara Israel baru-baru ini terhadap situs militer Iran. /ANTARA/Anadolu/py (Antara)
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah ini berpotensi memicu gejolak ekonomi global.
Iran memperingatkan bahwa jika serangan AS benar-benar terjadi, mereka tidak akan ragu untuk menutup total Selat Hormuz hingga infrastruktur dalam negeri yang rusak berhasil dipulihkan.
Selain itu, Iran juga mengungkapkan sejumlah langkah balasan lain yang telah disiapkan, antara lain; serangan besar terhadap infrastruktur listrik, energi, dan komunikasi Israel, lalu penargetan perusahaan regional yang memiliki keterkaitan dengan modal AS, kemudian serangan terhadap fasilitas energi di negara-negara yang menjadi basis militer AS.
Dalam pernyataannya, Iran menegaskan akan mengambil “semua langkah yang diperlukan” untuk melindungi kepentingan nasionalnya. Operasi terhadap infrastruktur ekonomi dan energi milik AS serta sekutunya di kawasan Timur Tengah juga disebut akan terus berlanjut jika konflik meningkat.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi negara Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)