Iran Klaim Lumpuhkan Kekuatan Militer AS dalam Konflik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Mar 2026, 09:10
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip - Suar gas di ladang minyak di Iran. (REUTERS) Arsip - Suar gas di ladang minyak di Iran. (REUTERS) (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Otoritas intelijen Iran mengklaim telah melemahkan kekuatan militer Amerika Serikat secara signifikan dalam tujuh hari pertama konflik yang pecah sejak 28 Februari 2026.

Laporan yang disiarkan media resmi Press TV menyebutkan bahwa pasukan AS mengalami ribuan korban serta kehilangan ratusan alat utama sistem persenjataan (alutsista) udara yang krusial.

Seorang pejabat senior intelijen Iran mengungkapkan, berdasarkan penilaian menyeluruh, setidaknya 200 personel militer AS tewas dan lebih dari 3.000 lainnya mengalami luka-luka.

"Kehilangan ini merupakan dampak langsung dari operasi balasan militer Iran yang dilakukan secara beruntun," ujar pejabat tersebut kepada Press TV, seperti dikutip Jumat, 20 Maret 2026.

Dalam laporan itu juga dirinci kerugian material yang diklaim diderita Washington, termasuk hancurnya 23 sistem pertahanan udara Patriot serta 150 peluncur rudal.

Baca Juga: Menlu Iran Kritik Macron soal Sikapnya Atas Serangan AS Terhadap Infrastruktur Energi

Selain itu, sebanyak 37 pesawat dan helikopter militer AS disebut berhasil dilumpuhkan. Iran bahkan mengklaim sekitar 43 persen persenjataan AS di kawasan tersebut telah hancur akibat serangan presisi yang dilakukan.

Pemerintah di Teheran juga menyoroti berkurangnya stok rudal pertahanan udara, baik milik Amerika Serikat maupun Israel, yang dinilai dapat melemahkan kemampuan pertahanan keduanya dalam menghadapi serangan lanjutan.

Hingga kini, otoritas di Washington dan Tel Aviv belum memberikan rincian resmi terkait tingkat kerusakan yang dialami. Meski demikian, sejumlah analis independen memperkirakan kerugian akibat rusaknya sistem radar dan pertahanan udara mencapai puluhan miliar dolar AS.

Arsip foto - Seorang anggota Marinir AS mengamati sebuah kapal penyerang cepat Iran dari USS John P. Murtha di Selat Hormuz dalam gambar yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada 18 Juli 2019. (ANTARA FOTO/HO-U.S. Navy/Donald Holbert/wsj/aa.) <b>(Antara)</b> Arsip foto - Seorang anggota Marinir AS mengamati sebuah kapal penyerang cepat Iran dari USS John P. Murtha di Selat Hormuz dalam gambar yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada 18 Juli 2019. (ANTARA FOTO/HO-U.S. Navy/Donald Holbert/wsj/aa.) (Antara)

Eskalasi konflik ini dipicu oleh tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan udara pada akhir Februari lalu. Selain sasaran militer, Iran juga menuding serangan koalisi menghantam sekolah dasar di wilayah selatan negara itu hingga menewaskan hampir 170 siswa.

Sebagai respons, militer Iran melancarkan 58 gelombang serangan dalam operasi bertajuk Operation True Promise 4. Target serangan mencakup pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah serta fasilitas militer Israel di wilayah pendudukan.

Laporan tersebut juga menyebut Tel Aviv terus mendesak tambahan dukungan militer dari Washington, sementara AS berupaya meyakinkan sekutu-sekutu regionalnya untuk ikut terlibat dalam pengamanan kawasan.

x|close