Ntvnews.id, Taheran - Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan tidak ada proses negosiasi dengan Amerika Serikat, sebagaimana dilaporkan kantor berita IRNA.
Pernyataan tersebut sekaligus membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut Washington telah mencapai sejumlah poin kesepakatan penting dengan Iran serta menjalin komunikasi dengan seorang tokoh kunci.
Dilansir dari IRNA, Rabu, 25 Maret 2026, juru bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan bahwa beberapa negara sahabat memang telah menyampaikan pesan yang mengindikasikan keinginan AS untuk memulai dialog guna mengakhiri konflik. Namun demikian, Iran belum memberikan respons atas pesan tersebut.
Baghaei juga menegaskan bahwa sikap Teheran terkait Selat Hormuz serta persyaratan untuk mengakhiri perang tetap tidak mengalami perubahan.
Baca Juga: Oposisi Desak Israel Lanjutkan Perang dengan Iran, Meski Tanpa AS
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump mengungkapkan telah memerintahkan penundaan selama lima hari terhadap rencana serangan ke fasilitas pembangkit listrik dan energi Iran.
Trump menyebut keputusan itu diambil setelah adanya komunikasi yang disebutnya berjalan sangat baik dengan "tokoh Iran" guna meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Terkait sosok tersebut, laporan Reuters yang mengutip pejabat Israel menyebutkan bahwa AS tengah bernegosiasi dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.
Arsip Foto - Donald Trump saat berbicara dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di National Harbor, Maryland, Amerika Serikat, Jumat (15/3/2013). ANTARA/Flickr/Gage Skidmore/am. (Antara)
Kedua pihak bahkan disebut berpotensi menggelar perundingan di Islamabad dalam waktu dekat.
Namun, Ghalibaf membantah kabar tersebut melalui platform X dengan menyatakan "tidak ada negosiasi yang telah dilakukan" dengan Washington.
Sementara itu, sejumlah laporan media mengutip pernyataan Ebrahim Rezaei, juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, yang menilai perundingan dengan AS tidak relevan dalam situasi saat ini.
Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari, yang kemudian dibalas oleh Teheran bersama sekutu regionalnya dengan serangan terhadap target-target milik AS dan Israel di berbagai wilayah Timur Tengah.
Ilustrasi negara Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)