Ntvnews.id, Washington - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz, termasuk delapan kapal berbendera Pakistan, dan menyebut langkah tersebut sebagai “hadiah” bagi Amerika Serikat.
Pernyataan itu disampaikan Trump di tengah laporan mengenai adanya komunikasi tidak langsung antara Washington dan Teheran. Ia menyebut perkembangan tersebut sebagai indikasi bahwa kedua pihak tengah terlibat dalam negosiasi yang cukup serius.
Dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Trump menilai langkah Iran tersebut sebagai bukti adanya kemajuan dalam pembicaraan.
"Sepertinya kami sedang berurusan dengan orang yang tepat," ujar Trump, yang menolak menyebutkan dengan siapa AS melakukan pembicaraan.
Baca Juga: Trump Kritik Rencana Iran Pungut Biaya Kapal di Selat Hormuz
Ia juga mengutip pernyataan yang menurutnya berasal dari pihak Iran terkait pengiriman kapal tersebut.
"Mereka berkata, 'Untuk menunjukkan fakta kepada kalian bahwa kami nyata dan solid serta benar-benar hadir, kami akan memberi kalian delapan kapal minyak, delapan kapal, delapan kapal minyak besar. Mereka benar dan mereka nyata,'" kata Trump.
Selain itu, Trump mengungkapkan bahwa Iran turut mengirim dua kapal tambahan sebagai bentuk permintaan maaf atas pernyataan sebelumnya.
Presiden AS tersebut juga membuka kemungkinan langkah lebih jauh terkait pasokan energi Iran.
"Maksud saya, saya tidak akan membicarakannya, tetapi itu adalah sebuah opsi," kata Trump.
Baca Juga: Iran Rancang Aturan Pungutan Kapal di Selat Hormuz untuk Tambah Pemasukan Negara
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyinggung bahwa tindakan penyergapan dan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada 3 Januari 2026 disebut telah memberikan keuntungan ekonomi besar bagi Amerika Serikat.
Sementara itu, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan, Mohammad Ishaq Dar, menyampaikan bahwa komunikasi tidak langsung antara AS dan Iran berlangsung melalui pesan yang difasilitasi oleh Pakistan.
Ketegangan di kawasan sendiri meningkat sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran.
Konflik tersebut mengganggu jalur distribusi energi global, memicu lonjakan harga minyak, serta menimbulkan ketidakstabilan ekonomi di berbagai belahan dunia.
(Sumber: Antara)
Masyarakat menghadiri unjuk rasa menentang serangan AS-Israel terhadap Iran di luar Balai Kota Los Angeles di California, Amerika Serikat, Sabtu (7/3/2026). (ANTARA/Xinhua/Qiu Chen) (Antara)