AS Akui Salah Target Serangan ke Sekolah Putri di Iran, Diduga Akibat Data Intelijen Usang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Mar 2026, 07:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Warga berkumpul untuk upacara pemakaman massal bagi siswa dan anggota staf yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel terhadap sebuah sekolah di Minab, provinsi Hormozgan, Iran. Warga berkumpul untuk upacara pemakaman massal bagi siswa dan anggota staf yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel terhadap sebuah sekolah di Minab, provinsi Hormozgan, Iran. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Amerika Serikat mengakui telah melakukan kesalahan dalam menentukan target saat meluncurkan serangan rudal pada 28 Februari 2026 yang menghantam sebuah sekolah dasar putri di Iran. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 170 orang, yang sebagian besar merupakan anak-anak.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal militer AS, serangan itu terjadi karena kekeliruan dalam penargetan yang dipicu penggunaan data intelijen lama. Sekolah yang terdampak serangan adalah Sekolah Dasar Putri Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, wilayah selatan Iran.

Peristiwa itu terjadi pada hari pertama operasi militer gabungan yang dilakukan AS bersama Israel terhadap Iran.

Kesalahan Target Diduga Berasal dari Data Lama

Laporan sejumlah media Amerika Serikat yang dirangkum oleh The Guardian menyebutkan bahwa para perencana militer menggunakan koordinat target yang berasal dari data lama milik Defense Intelligence Agency.

Baca Juga: Iran: Kami Tidak Pernah Minta Gencatan Senjata

Bangunan yang kini menjadi sekolah tersebut diketahui pernah menjadi bagian dari kompleks militer Iran pada masa lalu. Namun, citra satelit terbaru menunjukkan bahwa bangunan itu telah lama dipisahkan dari fasilitas militer dan telah difungsikan sebagai sekolah. Area tersebut dilengkapi lapangan bermain serta mural warna-warni di dinding bangunan.

Akibat kesalahan tersebut, rudal jelajah Tomahawk menghantam gedung sekolah yang saat itu sedang dipenuhi ratusan siswa. Insiden ini menjadi salah satu tragedi dengan jumlah korban sipil terbesar dalam konflik yang berlangsung antara Iran dan koalisi AS–Israel.

Peran Kecerdasan Buatan dalam Analisis Intelijen

Dalam persiapan operasi militer tersebut, militer AS diketahui memanfaatkan platform analisis data milik Palantir Technologies bernama Maven Smart System. Sistem itu menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), termasuk model Claude yang dikembangkan perusahaan Anthropic.

Menurut sumber yang mengetahui proses tersebut, teknologi AI hanya digunakan untuk membantu memproses dan menyaring data intelijen dalam jumlah besar. Sistem tersebut mampu mengidentifikasi pola serta merangkum informasi dengan lebih cepat dibandingkan analis manusia.

Namun, penentuan target serangan tetap menjadi kewenangan manusia.

“Proses penargetan selalu dan harus tetap dilakukan oleh manusia,” ujar sumber yang mengetahui proses tersebut.

Memicu Perdebatan Hukum Internasional

Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu Ajansi/pri. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu Ajansi/pri. (Antara)

Serangan terhadap sekolah di Minab memicu perdebatan luas terkait aspek hukum dan etika penggunaan teknologi AI dalam operasi militer. Banyak pihak mempertanyakan tanggung jawab apabila kesalahan analisis AI berkontribusi terhadap serangan yang menimbulkan korban sipil.

Marko Milanovic, profesor hukum dari University of Reading, menyatakan bahwa sistem AI tidak dapat secara langsung dipersalahkan dalam kerangka hukum internasional.

“Tindakan sistem AI saat ini di militer hanyalah konsekuensi dari tindakan manusia yang memutuskan untuk menggunakannya,” tulis Milanovic dalam blog European Journal of International Law pada 9 Maret 2026.

Ia menegaskan bahwa tanggung jawab hukum tetap berada pada individu yang memutuskan menggunakan teknologi tersebut dalam operasi militer. Menurutnya, hukum pidana internasional yang berlaku saat ini masih cukup untuk menangani kasus-kasus yang melibatkan penggunaan AI.

Tekanan Politik dan Kecaman Internasional

Tragedi di Minab juga memicu tekanan politik di dalam negeri Amerika Serikat. Lebih dari 40 senator AS mendesak Pentagon untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap insiden tersebut, yang mereka sebut sebagai peristiwa mengerikan.

Para senator meminta penjelasan mengenai bagaimana sistem AI digunakan dalam operasi militer tersebut serta apakah mekanisme verifikasi manusia telah diterapkan secara memadai dalam proses penargetan.

Baca Juga: Ukraina Hentikan aliran Minyak Druzhba karena alasan Politik

Kecaman juga datang dari komunitas internasional. Badan pendidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa serangan terhadap sekolah tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.

Para pakar PBB pun menyerukan dilakukannya penyelidikan independen atas insiden tersebut. Tragedi di Minab kini menjadi sorotan global karena menunjukkan bagaimana kesalahan data intelijen termasuk yang diproses dengan bantuan AI dapat berujung pada tragedi besar dalam konflik bersenjata modern.

x|close