Ntvnews.id, Tel Aviv - Pemerintah Israel memutuskan memperpanjang larangan kegiatan belajar tatap muka hingga beberapa hari ke depan sebagai dampak dari konflik yang sedang berlangsung dengan Iran.
Dilansir dari Al Jazeera, Selasa, 17 Maret 2026, pembatasan tersebut juga mencakup larangan penyelenggaraan pertemuan dalam skala besar serta aktivitas kerja di wilayah yang tidak memiliki akses cepat menuju tempat perlindungan dari serangan bom.
Sebelumnya, beberapa hari lalu otoritas Israel sempat mempertimbangkan pelonggaran aturan. Menurut laporan The Times of Israel pada Kamis, 12 Maret 20265, langkah tersebut direncanakan setelah intensitas serangan rudal balistik dari Iran dilaporkan menurun.
Namun situasi keamanan yang masih belum stabil membuat kebijakan pembatasan kembali diperketat.
Baca Juga: Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 10 Orang
Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel menyatakan bahwa tingkat aktivitas di negara tersebut kini disesuaikan dari kategori "aktivitas penting" menjadi "aktivitas terbatas". Berdasarkan aturan baru itu, kegiatan pendidikan tetap tidak diperbolehkan kecuali untuk sejumlah pengecualian tertentu yang telah ditetapkan.
Dalam kebijakan sebelumnya, otoritas Israel masih mengizinkan penyelenggaraan pertemuan dengan jumlah maksimal 50 orang, dengan syarat lokasi kegiatan memiliki akses cepat menuju tempat perlindungan.
Selain itu, perusahaan juga diizinkan tetap beroperasi selama fasilitas perlindungan dari serangan dapat dijangkau dengan cepat oleh para pekerja.
Meski sejumlah kegiatan diperbolehkan secara terbatas, pemerintah Israel tetap menutup seluruh pantai bagi masyarakat umum demi alasan keamanan selama konflik berlangsung.
Bendera Israel/ist