Ntvnews.id, Tepi Barat - Sebuah desa Palestina di wilayah Tepi Barat dilaporkan kehilangan akses terhadap air bersih setelah satu-satunya saluran air yang melayani kawasan tersebut dihancurkan oleh pemukim Yahudi. Insiden itu terjadi di Desa Umm Safa, yang berada di barat laut Ramallah, di tengah aktivitas perluasan permukiman Israel yang terus berlangsung.
Menurut sumber-sumber lokal, para pemukim merusak infrastruktur vital tersebut saat melakukan pekerjaan pembangunan jalan baru untuk menghubungkan kawasan permukiman di sekitar wilayah itu.
“Para penjajah meratakan tanah Palestina dan menghancurkan pipa air utama dan satu-satunya yang memasok desa Umm Safa, barat laut Ramallah, sambil membangun jalan pemukiman baru di dekat daerah itu,” ujar sumber-sumber lokal kepada Anadolu, dikutip Rabu, 17 Juni 2026.
Akibat kerusakan tersebut, warga Desa Umm Safa kini tidak lagi memiliki akses terhadap pasokan air bersih yang sebelumnya menjadi sumber utama kebutuhan sehari-hari masyarakat setempat.
Dalam beberapa waktu terakhir, Umm Safa disebut menjadi salah satu wilayah yang kerap mengalami peningkatan tekanan dari aktivitas pemukim Israel yang berasal dari permukiman dan pos-pos terdepan ilegal di sekitarnya. Kondisi itu juga dilaporkan semakin membatasi akses warga Palestina terhadap lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Baca Juga: Netanyahu Pastikan Maju Lagi di Pemilu Israel
Situasi serupa juga terjadi di berbagai wilayah lain di Tepi Barat yang diduduki. Sejumlah laporan menyebutkan meningkatnya serangan terhadap lahan pertanian Palestina, mulai dari pembakaran lahan, perataan tanah menggunakan buldoser, hingga pembatasan akses petani menuju area pertanian mereka, terutama yang berada di dekat permukiman dan pos-pos terdepan ilegal.
Sementara itu, harian Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berencana mengalokasikan dana sebesar 5,5 juta shekel dari anggaran negara untuk mendukung kelompok pemukim ekstremis yang dikenal sebagai Hilltop Youth.
Kelompok tersebut sebagian besar beranggotakan pemukim yang tinggal di pos-pos terdepan ilegal di berbagai wilayah Tepi Barat. Mereka kerap dikaitkan dengan berbagai aksi kekerasan terhadap warga Palestina dan dianggap sebagai salah satu elemen ideologis utama di balik gerakan ekstremis "Price Tag".
Berdasarkan data otoritas Palestina, sejak 8 Oktober 2023, operasi militer Israel dan aksi para pemukim di wilayah Tepi Barat telah menyebabkan sedikitnya 1.169 warga Palestina tewas, 12.666 orang terluka, sekitar 23.000 orang ditangkap, serta memaksa sekitar 33.000 warga mengungsi dari tempat tinggal mereka.
Pemukim Ilegal Israel sita Domba Warga Palestina di Tepi Barat (Antara)