Ntvnews.id, Jakarta - Asia Tenggara bersiap menghadapi potensi El Nino ekstrem pada saat kondisi ekonomi kawasan masih tertekan akibat lonjakan harga energi, transportasi, dan pangan yang dipicu konflik Iran. Situasi ini dikhawatirkan memperbesar risiko inflasi, mengganggu produksi pangan, hingga memicu ketegangan sosial dan politik di sejumlah negara.
Dilansir dari DW, Rabu, 17 Juni 2026, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan fenomena El Nino mulai berkembang sebelum Agustus 2026 dan bertahan setidaknya hingga November 2026. Kondisi tersebut ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di sebagian besar Samudra Pasifik yang lebih tinggi dari normal serta terganggunya pola angin timur-barat yang biasanya terjadi.
Dampaknya, kawasan Pasifik bagian tengah dan timur diperkirakan mengalami cuaca yang lebih panas. Di Asia Tenggara, kondisi ini berpotensi mengganggu musim hujan monsun yang selama ini berperan penting dalam mengisi cadangan air, menurunkan suhu udara, dan mendukung aktivitas pertanian menjelang musim tanam.
Jika curah hujan datang lebih lambat atau berada di bawah normal, para petani diperkirakan akan menunda masa tanam, mengurangi luas lahan produksi, bahkan mengganti jenis tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air.
Baca Juga: Pembuatan Kiswah Ka'bah Baru Selesai, Gunakan Teknologi Jahit Berbasis Laser
"Sektor pertanian Asia Tenggara sangat rentan terhadap guncangan El Nino yang baru karena dua komoditas utamanya, yaitu padi dan minyak sawit, sangat terkonsentrasi dan memiliki sensitivitas tinggi terhadap anomali iklim," ujar Ketua Southeast Asia Hub di Global Heat Health Information Network, Jason Lee.
"Paparan risiko yang sangat besar ini membuat guncangan yang awalnya hanya terjadi di tingkat pertanian lokal dan dapat meluas dengan cepat menjadi krisis harga pangan dan inflasi yang bersifat sistemik di seluruh kawasan."
Padi dan Sawit Jadi Komoditas Paling Rentan
Bagi negara-negara Asia Tenggara, produksi padi dinilai sebagai ancaman paling serius karena beras merupakan makanan pokok masyarakat sekaligus komoditas yang sangat sensitif secara politik.
Peneliti Senior Program Perubahan Iklim Asia Tenggara di ISEAS–Yusof Ishak Institute, Paul Teng, mengatakan tanaman padi berpotensi mengalami dampak terbesar akibat berkurangnya curah hujan dan meningkatnya suhu udara.
"Di wilayah pertanian padi yang bergantung pada hujan, kemungkinan akan terjadi lebih banyak kekeringan lokal. Sementara itu, di wilayah sawah beririgasi, tekanan terhadap ketersediaan air kemungkinan meningkat akibat menurunnya kapasitas waduk dan sistem irigasi," kata Teng.
Ia menyebut Thailand, Filipina, Indonesia, dan Kamboja sebagai negara yang paling rentan terdampak.
Menurut perkiraannya, produksi beras Asia Tenggara dapat turun antara 2 hingga 8 persen dibandingkan tahun normal, dengan kerugian lebih besar di wilayah yang rawan kekeringan.
Selain padi, minyak sawit juga menjadi perhatian utama. Indonesia dan Malaysia yang menguasai sekitar 85 persen pasokan minyak sawit dunia diperkirakan menghadapi tekanan produksi akibat kenaikan suhu.
"Minyak sawit sensitif terhadap kenaikan suhu yang diperkirakan terjadi. Namun, berbeda dengan padi, dampaknya mungkin baru akan terasa 6 hingga 12 bulan kemudian akibat menurunnya pembentukan tandan buah segar dan tingkat ekstraksi minyak," ujar Teng.
Inflasi Berpotensi Semakin Tinggi
Ilustrasi El Nino. /ANTARA/Anadolu/py. (Anadolu) (Antara)
Para pengamat juga menyoroti kenaikan harga pupuk dan gas yang sudah terjadi akibat konflik Iran. Jika El Nino berlangsung ekstrem, tekanan terhadap harga komoditas tersebut diperkirakan semakin besar dan berdampak pada biaya produksi pangan.
Lee menjelaskan bahwa pasar sering bereaksi bukan hanya terhadap kelangkaan barang, tetapi juga terhadap kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan di masa depan.
"Kondisi ini membuat bank sentral berada dalam posisi siaga tinggi dan memaksa mereka mempertahankan suku bunga yang tinggi untuk mengendalikan inflasi yang dipicu oleh harga pangan. Hal itu terjadi pada saat dunia usaha di kawasan menghadapi biaya pinjaman yang lebih mahal dan anggaran pemerintah sudah terbebani oleh kebutuhan subsidi serta melonjaknya biaya energi," tambahnya.
Sejumlah negara Asia Tenggara bahkan telah kembali meningkatkan penggunaan batu bara untuk mengatasi tekanan pasokan energi dan memperluas program subsidi bagi masyarakat.
Bank Pembangunan Asia (ADB) sebelumnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia dan Pasifik berkembang pada 2026 dari 5,1 persen menjadi 4,7 persen. Sebagian besar penyesuaian tersebut dikaitkan dengan dampak perang Iran terhadap ekonomi global.
Ancaman Kabut Asap dan Stabilitas Politik
Selain sektor pangan, El Nino juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan gambut yang selama ini menjadi sumber kabut asap lintas batas, terutama di Sumatra, Kalimantan, dan wilayah utara Thailand.
Profesor Ekologi Politik Universiti Malaya, Helena Varkkey, memperingatkan bahwa kondisi tersebut dapat memperburuk masalah kesehatan masyarakat dan memicu ketegangan diplomatik di kawasan.
"El Nino besar akan meningkatkan kemungkinan terjadinya kabut asap lintas batas yang serius. Kondisi ini akan memperberat beban masyarakat karena risiko terhadap kesehatan publik meningkat, di samping berbagai persoalan sosial lainnya," jelas Varkkey.
Sementara itu, Lee mengingatkan bahwa kombinasi tekanan ekonomi akibat konflik geopolitik dan dampak iklim dapat menjadi tantangan besar bagi stabilitas kawasan.
"Secara historis, di Asia Tenggara, ketika harga beras dan bahan bakar melampaui ambang tertentu, keputusasaan masyarakat dapat dengan cepat berubah menjadi ketidakstabilan politik," ujarnya.
Meski proyeksi cuaca masih dapat berubah, pemerintah di kawasan dinilai harus segera memperkuat cadangan pangan dan air, memperbaiki sistem subsidi, serta memberikan dukungan kepada petani agar dampak El Nino tidak berkembang menjadi krisis ekonomi dan sosial yang lebih luas.
Ilustrasi El Nino. /ANTARA/Anadolu/py. (Anadolu) (Antara)