Ntvnews.id, Jakarta - Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie mengusulkan kepada Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia menangguhkan keanggotaannya dalam Board of Peace (BoP) hingga konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mereda.
Menurut Jimly, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut sangat menghargai keterlibatan Indonesia dalam BoP. Karena itu, ia menilai langkah keluar sepenuhnya dari organisasi tersebut belum menjadi pilihan yang tepat saat ini.
"Saya rasa dua hal yang membuat Donald Trump senang sekali sama Indonesia itu, kan bisa kita kurangin separuh. Misalnya, yang BoP itu, kita menyatakan menangguhkan kewajiban keanggotaan kita sampai dua hal. Satu, sampai perang Iran versus Amerika dan Israel ini reda," kata Jimly saat memberikan keterangan di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.
Baca Juga: Prabowo Minta Cadangan BBM Nasional Ditingkatkan hingga 3 Bulan
Ia menjelaskan eskalasi konflik di Iran setelah serangan sepihak yang dilakukan militer Amerika Serikat dan Israel memunculkan persepsi di masyarakat bahwa organisasi yang dibentuk Presiden Trump tersebut bukan lagi Board of Peace atau Dewan Perdamaian, melainkan Board of Power atau Dewan Kekuasaan.
Atas dasar itu, Jimly menyarankan agar pemerintah Indonesia mempertimbangkan langkah menangguhkan sementara keanggotaan dalam BoP sampai situasi konflik di Iran benar-benar mereda.
Selain itu, ia juga mengusulkan agar Indonesia kembali aktif di forum tersebut apabila telah ada kepastian dari Israel terkait pengakuan terhadap kemerdekaan Palestina.
Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri Jimly Asshiddiqie (tengah) memberikan keterangan pers dalam konferensi pers di kawasan Jakarta Selatan, Kamis, 18 Desember 2025. (ANTARA/Nadia Putri Rahmani) (Antara)
"Yang kedua, sampai ada kepastian jadwal pengakuan Israel kepada kemerdekaan Palestina. Nah, kalau sudah ada kepastian, baru kita aktif lagi. Saran saya begitu," kata Jimly.
Lebih lanjut, Jimly menilai Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki potensi besar untuk memainkan peran strategis dalam meredakan konflik di antara negara-negara Islam.
Baca Juga: Prabowo Minta Cadangan BBM Nasional Ditingkatkan hingga 3 Bulan
Menurutnya, Indonesia dapat berkontribusi menjembatani perbedaan yang kerap dimanfaatkan untuk memecah belah dunia Islam, termasuk antara kelompok Arab dan non-Arab.
"Bangsa Arab dengan bangsa non-Arab, Turki, Persia atau Iran, Indonesia dan Pakistan mudah-mudahan bisa merujukkan dunia Islam. Jangan nanti diadu domba. Ini gara-gara Syiah, orang Sunni," katanya.
Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri, Prof Jimly Asshiddiqie (Istimewa)