Ntvnews.id, Taheran - Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat dilaporkan tengah mempersiapkan kelompok milisi Kurdi guna memicu pemberontakan di Iran dalam waktu dekat.
Kelompok bersenjata Kurdi itu disebut-sebut akan memperoleh dukungan dari Amerika Serikat dan Israel, walaupun bentuk bantuan yang dimaksud belum dijelaskan secara rinci. Rencana tersebut mencuat di tengah konflik Iran melawan AS-Israel yang telah berlangsung selama lima hari terakhir.
"Kami baru saja melakukan percakapan menarik dengan seorang pejabat senior Kurdi Iran yang mengatakan pasukan oposisi Kurdi Iran sedang mempersiapkan operasi darat di wilayah barat Iran dalam beberapa hari mendatang," ujar koresponden internasional utama CNN, Clarissa Ward.
"Mereka menunggu dukungan dari AS dan Israel sebagai bagian dari operasi ini, meski ia tidak memberikan rincian mengenai bentuk dukungan itu," tambah dia.
Ward juga menyampaikan bahwa Presiden AS Donald Trump dikabarkan telah melakukan panggilan telepon dengan pimpinan salah satu partai oposisi Kurdi Iran pada hari yang sama.
Baca Juga: Menlu Spanyol Ungkap AS Tak Beri Beri Tahu Sekutu Sebelum Serang Iran
Ia turut mengutip laporan terbaru dari rekan-rekannya di Washington yang menyebutkan CIA sedang menyalurkan persenjataan kepada pasukan Kurdi.
"CIA bekerja untuk memasok senjata kepada pasukan Kurdi dengan tujuan mendorong pemberontakan rakyat di Iran," ujar Ward.
Langkah ini dinilai sarat risiko dan memiliki tingkat kompleksitas tinggi. Pasukan Kurdi Iran diketahui beroperasi dari wilayah Kurdistan Irak, sementara pimpinan Kurdi Irak memilih menjaga posisi netral dalam konflik yang sedang berlangsung.
Warga berkumpul untuk berkabung atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran, Iran, Minggu, 1 Maret 2026. Media pemerintah Iran mengonfirmasi pada hari Minggu bahwa Pemimpin Tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dal (Antara)
"Hubungan mereka dengan Turki dan Iran menjadi faktor penting yang harus diperhitungkan," ujarnya.
Persiapan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, terutama setelah stasiun CIA di Kedutaan Besar AS di Arab Saudi dilaporkan terkena serangan drone yang diduga dilakukan Iran.
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa Kamis, 5 Maret 2026 di Jakarta
Kedutaan Besar AS di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, menjadi salah satu fasilitas Amerika yang terdampak konflik ini.
Di sisi lain, Iran juga melancarkan serangan balasan setelah Pemimpin Tertingginya, Ali Khamenei, tewas pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Teheran merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan dan kepentingan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk.
Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py (Antara)