Macron Sebut Operasi Militer AS dan Israel Langgar Hukum Internasional

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Mar 2026, 19:30
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Macron mengonfirmasi bahwa kapal induk Prancis Charles de Gaulle dikirim ke Laut Mediterania sebagai respons terhadap memburuknya situasi di kawasan tersebut. Kapal itu sebelumnya berada di Swedia untuk latihan militer. ANTARA/Xinhua. Macron mengonfirmasi bahwa kapal induk Prancis Charles de Gaulle dikirim ke Laut Mediterania sebagai respons terhadap memburuknya situasi di kawasan tersebut. Kapal itu sebelumnya berada di Swedia untuk latihan militer. ANTARA/Xinhua. (Antara)

Ntvnews.id, Paris - Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel tidak sejalan dengan hukum internasional dan tidak dapat dibenarkan oleh negaranya. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato yang disiarkan melalui televisi pada Selasa, 3 Maret 2026, terkait perkembangan situasi di Iran dan kawasan Timur Tengah.

Dalam pidatonya, Macron menilai eskalasi yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel telah memperluas konflik ke berbagai wilayah di Timur Tengah. Ia memperingatkan bahwa kondisi tersebut membawa dampak serius terhadap stabilitas, perdamaian, dan keamanan regional.

Sebagai respons atas memburuknya situasi, Macron mengonfirmasi bahwa kapal induk Prancis Charles de Gaulle

 telah dikerahkan menuju Laut Mediterania. Sebelumnya, kapal tersebut berada di Swedia untuk mengikuti latihan militer.

Selain langkah militer, pemerintah Prancis juga mengambil tindakan untuk melindungi warganya. Macron mengumumkan bahwa dua penerbangan pertama yang mengevakuasi warga negara Prancis dari wilayah Timur Tengah yang terdampak konflik dijadwalkan tiba di Paris pada Selasa malam, 3 Maret 2026, waktu setempat.

Baca Juga: China Kutuk Keras Serangan AS-Israel yang Targetkan Warga Sipil Iran

Dia mengatakan kapal fregat Languedoc serta aset pertahanan udara tambahan juga dikerahkan ke Siprus. Pangkalan udara Inggris di Akrotiri, yang terletak di pesisir selatan Siprus, diserang drone pada Senin, 2 Maret 2026 dini hari waktu setempat. ANTARA/Xinhua. <b>(Antara)</b> Dia mengatakan kapal fregat Languedoc serta aset pertahanan udara tambahan juga dikerahkan ke Siprus. Pangkalan udara Inggris di Akrotiri, yang terletak di pesisir selatan Siprus, diserang drone pada Senin, 2 Maret 2026 dini hari waktu setempat. ANTARA/Xinhua. (Antara)

Baca Juga: Vladimir Putin Tawarkan Jadi Mediator di Perang AS-Israel dan Iran

Ia juga menegaskan bahwa Prancis telah mengambil langkah pertahanan sejak awal pecahnya konflik.

Menurut Macron, negaranya menembak jatuh sejumlah drone "dalam pembelaan yang sah" sejak "jam-jam pertama konflik" yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran.

Sementara itu, pada Minggu, 1 Maret 2026, Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin menyampaikan melalui media sosial bahwa sebuah hanggar di pangkalan angkatan laut Prancis yang bersebelahan dengan pangkalan Uni Emirat Arab di Abu Dhabi menjadi sasaran serangan drone. Serangan tersebut hanya mengakibatkan kerusakan material dan tidak menimbulkan korban luka.

Baca Juga: Donald Trump Cuek Iran Ancam Boikot Piala Dunia 2026

Macron juga mengumumkan bahwa dua penerbangan pertama yang memulangkan warga negara Prancis dari Timur Tengah yang dilanda perang akan tiba di Paris pada Selasa, 3 Maret 2026 malam waktu setempat. ANTARA/Xinhua. <b>(Antara)</b> Macron juga mengumumkan bahwa dua penerbangan pertama yang memulangkan warga negara Prancis dari Timur Tengah yang dilanda perang akan tiba di Paris pada Selasa, 3 Maret 2026 malam waktu setempat. ANTARA/Xinhua. (Antara)

Baca Juga: Makin Panas! Iran Serang Markas Intel CIA di Arab Saudi, Gedung Rusak Parah

(Sumber: Antara) 

x|close