China Kutuk Keras Serangan AS-Israel yang Targetkan Warga Sipil Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Mar 2026, 10:42
thumbnail-author
Beno Junianto
Penulis & Editor
Bagikan
Warga Iran Rayakan Kemenangan Lawan Israel Warga Iran Rayakan Kemenangan Lawan Israel (AP via TRT Global)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah China mengutuk keras serangan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan fasilitas publik sehingga menewaskan warga sipil serta menegaskan hal tersebut adalah batas merah yang tidak boleh dilanggar.

"China sangat sedih atas banyaknya korban sipil yang disebabkan oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran. Kami mengutuk keras hal itu. Perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata adalah garis merah dan tidak boleh dilanggar," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning di Beijing, Selasa (3/3).

Serangan udara AS dan Israel pada Sabtu (28/2) diketahui mengenai Sekolah Dasar Khusus Putri Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, yang menyebabkan hingga 165 orang meninggal dunia.

"Penggunaan kekuatan tanpa pandang bulu tidak dapat diterima. China menyerukan kepada semua pihak untuk memenuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional, secara efektif memastikan keselamatan warga sipil, dan menghindari serangan terhadap fasilitas sipil," tambah Mao Ning.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning.  <b>(Antara)</b> Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning. (Antara)

Serangan AS-Israel terhadap Iran tersebut disebut Mao Ning tidak memiliki otorisasi Dewan Keamanan PBB dan melanggar hukum internasional.

 

"China sangat prihatin atas dampak regionalnya. China percaya bahwa kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial negara-negara Teluk juga harus dihormati sepenuhnya. Kami mendesak semua pihak untuk menghentikan operasi militer dan mencegah penyebaran konflik lebih lanjut," ujarnya.

Serangan AS dan Israel itu juga menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan juga menargetkan infrastruktur militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Departemen Luar Negeri AS pada Senin (2/3) pun mendesak warga negaranya untuk segera meninggalkan kawasan Timur Tengah karena adanya risiko keselamatan serius.

Lokasi yang dikategorikan memiliki "risiko keselamatan serius" meliputi Bahrain, Mesir, Iran, Irak, Israel, Tepi Barat dan Gaza, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, Suriah, Uni Emirat Arab (UEA), dan Yaman.

 

"Serangan militer terang-terangan terhadap Iran yang dilancarkan oleh AS dan Israel telah meningkatkan ketegangan regional dan meluas ke negara-negara lain di kawasan tersebut. China sangat prihatin akan hal itu," kata Mao Ning.

Ia menyebut China percaya bahwa kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah negara-negara Teluk harus sepenuhnya dihormati, dan setiap serangan terhadap warga sipil yang tidak bersalah dan target non-militer harus dikutuk.

"China mendesak semua pihak untuk segera menghentikan operasi militer dan mencegah penyebaran konflik lebih lanjut. China siap bekerja sama dengan negara-negara regional dan komunitas internasional untuk mempromosikan perdamaian, menghentikan konflik, dan secara aktif berupaya mewujudkan perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut," ungkap Mao Ning.

Serangan AS terhadap Iran tersebut diakui Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebagai upaya untuk bertindak lebih dulu sebelum Teheran dapat merespons serangan Israel yang diperkirakan akan terjadi.

“Kami tahu bahwa jika Iran diserang, dan kami yakin itu akan terjadi, mereka akan segera menyerang kami, dan kami tidak akan hanya diam dan menerima serangan sebelum kami merespons,” ucap dia.

Namun, menurut laporan media, pejabat Pentagon mengatakan kepada staf Kongres dalam pengarahan tertutup pada Minggu, bahwa tidak ada info intelijen yang menunjukkan Iran berencana menyerang pasukan AS terlebih dahulu.

 

Israel sebelumnya mengumumkan telah melakukan apa yang disebutnya sebagai serangan “preemptif” terhadap Iran pada Sabtu (28/2) dini hari waktu setempat dengan nama “Operation Lion’s Roar” serta memberlakukan status darurat “khusus dan segera” di seluruh negeri.

Serangan tersebut terjadi saat perundingan antara Amerika Serikat dan Irana mengenai program nuklir Iran masih berlangsung di bawah mediasi Oman, dengan putaran terbaru di Jenewa berakhir pada Kamis (26/2).

Baca Juga: China Serukan Penghentian Operasi Militer Usai Iran Tutup Selat Hormuz

ANTARA

x|close