Arab Saudi Siap Ambil Tindakan Usai Serangan Balasan Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Mar 2026, 08:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Bendera Arab Suadi Bendera Arab Suadi (Istimewa)

Ntvnews.id, Riyadh - Arab Saudi geram setelah Iran melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas yang berkaitan dengan Amerika Serikat (AS) di wilayahnya. Riyadh pun menyatakan kesiapan untuk membalas.

DIlansir dari Anadolu, Kamis, 5 Maret 2026, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman sebelumnya sempat berbicara via telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Januari lalu. Dalam pembicaraan itu, ia menegaskan bahwa Saudi tidak akan mengizinkan wilayahnya dipakai sebagai titik serangan terhadap Iran.

Namun pada Sabtu, 28 Februari 2026 AS bersama Israel menggempur Iran dalam operasi yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Teheran kemudian membalas dengan menargetkan sejumlah pangkalan AS di negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi.

Ledakan dilaporkan terdengar di Riyadh pada Sabtu, 28 Februari 2026 dan Minggu, 1 Maret 2026. Pemerintah Saudi mengecam keras serangan tersebut dan menyatakan sebagian besar berhasil dicegat sistem pertahanan udara mereka.

Baca Juga: Korban Tewas Serangan Gabungan AS-Israel di Iran Tembus 1.045 Orang

"Serangan-serangan ini tidak dapat dibenarkan dengan dalih apa pun atau dengan cara apa pun, dan serangan tersebut terjadi meskipun pihak berwenang Iran mengetahui bahwa Kerajaan telah menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udara atau teritorialnya digunakan untuk menargetkan Iran," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Saudi.

Meski telah diprotes, Iran tetap melanjutkan aksinya. Pada Selasa, 3 Maretr 2026 drone Iran menghantam Kedutaan Besar AS di Riyadh dan juga dilaporkan menyerang markas CIA di ibu kota tersebut. Tidak ada laporan korban jiwa, meskipun terjadi kerusakan material.

Pemerintah Saudi terbaru menegaskan memiliki 'hak penuh' untuk merespons rentetan serangan yang menghantam Riyadh dan sejumlah wilayah lainnya. Serangan Iran itu disebut sebagai tindakan 'terang-terangan dan pengecut'.

Arsip - Ledakan akibat serangan rudal Iran ke Tel Aviv, Israel, 28 Februari 2026. ANTARA/Xinhua/Chen Junqing/am. <b>(Antara)</b> Arsip - Ledakan akibat serangan rudal Iran ke Tel Aviv, Israel, 28 Februari 2026. ANTARA/Xinhua/Chen Junqing/am. (Antara)

Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat kabinet yang dipimpin Mohammed bin Salman, yang juga menjabat Perdana Menteri, melalui konferensi video pada Selasa, 3 Maret 2026 malam.

"Kerajaan menegaskan kembali hak penuh untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi keamanan, integritas wilayah, warga negara, penduduk, dan kepentingan-kepentingan vitalnya, termasuk opsi untuk merespons agresi tersebut," demikian laporan Saudi Press Agency (SPA).

Dalam forum yang sama, otoritas Saudi juga menyatakan solidaritas terhadap negara-negara tetangga yang turut menjadi sasaran serangan balasan Iran, menandakan sikap bersama menghadapi ancaman kawasan.

Baca Juga: PM Kanada Dukung Serangan AS dan Israel ke Iran dengan Rasa Sesal

"Menegaskan kembali solidaritas penuh Arab Saudi dengan negara-negara sahabat yang wilayahnya menjadi sasaran agresi Iran yang terang-terangan," ujar SPA.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, menyebut sistem pertahanan udara berhasil mencegat sejumlah ancaman tambahan. Ia mengakui Kedutaan Besar AS mengalami 'kebakaran terbatas dan kerusakan material kecil'. Delapan drone lainnya yang mengarah ke Riyadh dan Al-Kharj juga berhasil dihancurkan pada Selasa pagi.

Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri Saudi menyebut serangan terhadap kedutaan itu melanggar Konvensi Jenewa 1949 dan Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik.

"Perilaku Iran yang berulang secara mencolok ini akan mendorong kawasan menuju eskalasi lebih lanjut," demikian peringatan yang disampaikan otoritas Saudi.

x|close