Isi Pertemuan Prabowo dengan Eks Presiden-Wapres hingga Tokoh Nasional

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Feb 2026, 02:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Menteri Luar Negeri periode 2001–2009 Noer Hassan Wirajuda Menteri Luar Negeri periode 2001–2009 Noer Hassan Wirajuda (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menggelar diskusi selama sekitar 3,5 jam di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026 malam, untuk membahas peningkatan eskalasi perang di kawasan Teluk, Timur Tengah, serta dampaknya terhadap Indonesia. Pertemuan itu dihadiri para mantan presiden dan wakil presiden, eks menteri luar negeri, serta pimpinan partai politik.

Menteri Luar Negeri periode 2001–2009 Noer Hassan Wirajuda yang turut hadir menjelaskan bahwa Presiden memaparkan perkembangan geopolitik terbaru, termasuk konsekuensi dari serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, serta respons balasan Iran dan dampaknya di negara-negara Teluk.

"Didiskusikan (situasi di Iran, red.), implikasinya apa terhadap kita, terhadap dunia. Ketika tatanan dunia sudah tidak lagi efektif dan tidak ada lagi peluang kepada negara yang menjadi korban serangan militer untuk mengadu kepada siapa, karena PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa, red.) sudah tidak berperan dan aturan atau 'rule-based order' hanya 'on paper' dan memang tidak ada kekuatan pemaksa, apalagi kalau itu berkaitan dengan negara-negara besar," kata Hassan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026 malam.

Baca Juga: OJK Waspadai Potensi Capital Outflow Imbas Perang AS-Iran

Hassan menambahkan, Presiden mengajak para tokoh memikirkan posisi Indonesia di tengah situasi tersebut, mengingat dampaknya tidak hanya menyangkut keamanan dan perdamaian global, tetapi juga aspek ekonomi.

"Bapak Presiden menggambarkan bagaimana kita harus menavigasi hidup kita, bukan hanya dua karang, tetapi sekarang beberapa karang dan itu tidak mudah, karena itu didiskusikan tentang implikasinya ini terhadap keseluruhan masalah keamanan dan perdamaian dunia, tetapi juga potensi efek dari perang ini terhadap ekonomi dunia, khususnya yang menyangkut 'supply oil', minyak dan gas," ujar Hassan, yang pernah menjabat pada era Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri dan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

Menteri Luar Negeri periode 2001&ndash;2009 Noer Hassan Wirajuda <b>(NTVnews)</b> Menteri Luar Negeri periode 2001–2009 Noer Hassan Wirajuda (NTVnews)

Dalam diskusi tersebut juga dibahas kemungkinan konflik berkepanjangan di kawasan Teluk, terlepas dari pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump yang menyebut perang hanya akan berlangsung beberapa hari.

"Kalau juga misalnya Amerika akan menggelar pasukan darat, bisa jadi (perang) lebih panjang dan reaksi perlawanan di sekitar negara-negara Timur Tengah juga akan besar, membesar dan karena itu perang akan berlangsung lama," kata Hassan.

Ia menilai, dampak eskalasi di Teluk akan dirasakan banyak negara, bukan hanya Indonesia.

Baca Juga: Eks Pemain Inter Milan Mehdi Taremi Dikabarkan Gabung Jadi Tentara Iran

"Karena itu, Presiden menganggap penting untuk mengomunikasikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah, dihadapi oleh Presiden, kepada kita yang diminta datang pada malam hari ini," kata Hassan.

Sejumlah tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 Joko Widodo, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-11 Boediono, serta Wakil Presiden ke-13 Ma'ruf Amin. Turut hadir pula para ketua umum partai politik yang memiliki perwakilan di DPR RI, perwakilan dunia usaha, jajaran menteri Kabinet Merah Putih, dan pimpinan lembaga negara.

x|close