Macron Kerahkan Kapal Induk Charles de Gaulle ke Mediterania

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Mar 2026, 07:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, 20 Januari 2026. (Xinhua/Lian Yi) Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, 20 Januari 2026. (Xinhua/Lian Yi) (Antara)

Ntvnews.id, Paris - Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat. Presiden Prancis Emmanuel Macron memerintahkan kapal induk Charles de Gaulle untuk bergerak menuju kawasan tersebut dengan berlayar ke Laut Mediterania.

"Menghadapi situasi yang tidak stabil ini dan ketidakpastian di hari-hari mendatang, saya telah memerintahkan kapal induk Charles de Gaulle, aset udaranya, dan kapal fregat pengawalnya untuk berlayar ke Mediterania," kata Macron dalam pidatonya, dilansir dari AFP, Kamis, 5 Maret 2026.

Dalam pidato sebelumnya, Macron juga menyampaikan bahwa jet tempur Rafale, sistem pertahanan udara, serta radar udara telah dikerahkan dalam beberapa jam terakhir di Timur Tengah.

"Dan kami akan melanjutkan upaya ini sebisa mungkin," kata Macron.

Macron turut menyinggung serangan pada Senin, 2 Maret 2026, terhadap pangkalan angkatan udara Inggris di Siprus. Ia menekankan bahwa Siprus merupakan anggota Uni Eropa yang baru saja menjalin kemitraan strategis dengan Prancis.

Baca Juga: Menlu Spanyol Ungkap AS Tak Beri Beri Tahu Sekutu Sebelum Serang Iran

"Ini membutuhkan dukungan kita. Itulah sebabnya saya telah memutuskan untuk mengirimkan aset pertahanan udara tambahan ke sana juga, bersama dengan fregat Prancis, Languedoc, yang akan tiba di lepas pantai Siprus nanti malam," kata Macron pada hari Selasa, 3 Maret 2026 waktu setempat.

Dalam rapat dewan pertahanan Prancis pada Minggu sebelumnya, Macron menegaskan bahwa negaranya akan meningkatkan kesiapsiagaan militer di Timur Tengah demi melindungi warga dan pangkalan Prancis, sekaligus membantu negara-negara kawasan yang menjadi sasaran Iran sebagai balasan atas serangan Israel dan Amerika Serikat.

Kapal Induk Amerika Serikat Abraham Lincoln.  <b>(Antara)</b> Kapal Induk Amerika Serikat Abraham Lincoln. (Antara)

Macron juga sebelumnya menyatakan keinginan Prancis untuk menambah jumlah hulu ledak nuklir. Prancis merupakan satu-satunya negara anggota Uni Eropa yang memiliki senjata nuklir.

Ia pernah menyampaikan bahwa Prancis dapat berperan sebagai pelindung nuklir bagi negara-negara Uni Eropa, terutama di tengah ketidakpastian hubungan keamanan dengan Amerika Serikat. Saat ini, Prancis memiliki sekitar 290 hulu ledak nuklir, menjadikannya kekuatan nuklir terbesar keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Rusia, dan Cina.

Meski demikian, Macron belum mengungkapkan jumlah tambahan hulu ledak yang akan diproduksi. Ia juga menyebut doktrin nuklir Prancis akan diperluas melalui kerja sama yang lebih erat dengan sejumlah negara Eropa seperti Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, dan Denmark.

Baca Juga: Korban Tewas Serangan Gabungan AS-Israel di Iran Tembus 1.045 Orang

Prancis memiliki empat kapal selam nuklir yang dapat beroperasi secara tersembunyi dengan jangkauan sekitar 10.000 kilometer. Selain itu, jet tempur Rafale milik Prancis juga mampu meluncurkan rudal jelajah berhulu ledak nuklir sejauh kurang lebih 500 kilometer. Terakhir kali Prancis menambah persenjataan nuklirnya adalah pada 1992.

Hubungan dengan Amerika Serikat sempat memanas awal tahun ini saat Presiden AS Donald Trump menyampaikan keinginan untuk mengambil alih Greenland, wilayah milik Denmark yang juga anggota Uni Eropa dan NATO.

Walau sikap tersebut kemudian berubah, sejumlah negara Eropa mulai mempertanyakan arah kebijakan Washington ke depan, bahkan setelah masa jabatan Trump berakhir. Kanselir Jerman Friedrich Merz turut menyatakan bahwa pesawat Angkatan Udara Jerman dapat digunakan untuk mengangkut bom nuklir milik Prancis.

x|close