Ntvnews.id, Paris - Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Senin, 3 Maret 2026 menyatakan bahwa negaranya akan meningkatkan jumlah hulu ledak nuklir yang dimiliki. Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungannya ke pangkalan militer L’Ile Longue, fasilitas penyimpanan kapal selam nuklir Prancis.
Sebagai satu-satunya negara di Uni Eropa yang memiliki senjata nuklir, Prancis sebelumnya telah menyampaikan kesiapan untuk menjadi pelindung nuklir bagi negara-negara anggota UE. Sikap itu muncul di tengah ketidakpastian hubungan keamanan dengan Amerika Serikat.
"Pembaruan arsenal kami adalah hal yang penting," kata Macron, sebagaiman dikutip dari AFP, Rabu, 4 Maret 2026.
"Saat ini kita berada dalam situasi geopolitik yang penuh gejolak dan risiko." tambahnya.
"Itulah sebabnya saya memerintahkan penambahan jumlah hulu ledak nuklir dalam arsenal kami."
Ia juga mengatakan, "Siapa pun yang ingin bebas harus ditakuti. Siapa pun yang ingin ditakuti harus kuat."
Bac Juga: Namanya Muncul di Epstein Files, Bill Clinton Klarifikasi Foto Berendam di Hot Tub
Saat ini, Prancis diperkirakan memiliki sekitar 290 hulu ledak nuklir, menjadikannya kekuatan nuklir terbesar keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Rusia, dan Cina. Namun, Macron tidak merinci jumlah tambahan hulu ledak yang akan diproduksi.
Ia juga menegaskan bahwa doktrin nuklir Prancis akan diperluas melalui kerja sama yang lebih erat dengan sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, dan Denmark.
Prancis memiliki empat kapal selam bersenjata nuklir yang dapat beroperasi secara tersembunyi di berbagai perairan dunia dengan jangkauan sekitar 10.000 kilometer. Selain itu, negara tersebut mengoperasikan jet tempur Dassault Rafale yang mampu meluncurkan rudal jelajah berhulu ledak nuklir dengan jarak sekitar 500 kilometer.
Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara dalam sebuah konferensi pers saat Konferensi Tingkat Tinggu Dewan Eropa di Brussels, Belgia, pada 17 Oktober 2024. (ANTARA/Xinhua/Zhao Dingzhe) (Antara)
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran negara-negara Eropa mengenai sejauh mana mereka dapat mengandalkan “payung nuklir” Amerika Serikat, yaitu kebijakan perlindungan nuklir Washington bagi sekutu-sekutunya, terutama anggota NATO.
Terakhir kali Prancis meningkatkan jumlah senjata nuklirnya adalah pada 1992.
Baca Juga: AS Sebut Telah Hancurkan 11 Kapal Iran di Teluk Oman
Hubungan dengan Amerika Serikat sempat memanas awal tahun ini ketika Presiden AS Donald Trump menyatakan keinginan untuk mengambil alih Greenland, wilayah milik Denmark yang juga anggota UE dan NATO. Meski sikap tersebut kemudian berubah, sejumlah negara Eropa mulai mempertanyakan arah kebijakan Washington di masa mendatang, bahkan setelah masa jabatan Trump berakhir.
Kanselir Jerman Friedrich Merz turut menyampaikan bahwa pesawat Angkatan Udara Jerman dapat digunakan untuk membawa bom nuklir milik Prancis sebagai bagian dari kerja sama pertahanan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, 20 Januari 2026. (Xinhua/Lian Yi) (Antara)