Bakom Pastikan Impor dari AS Tak Ganggu Produk Dalam Negeri

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Feb 2026, 05:00
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI (Bakom RI) Fithra Faisal Hastiadi menjawab pertanyaan wartawan di Gedung Kwarnas Gerakan Pramuka, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu, 25 Februari 2026. (ANTARA/Fathur Rochman) Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI (Bakom RI) Fithra Faisal Hastiadi menjawab pertanyaan wartawan di Gedung Kwarnas Gerakan Pramuka, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu, 25 Februari 2026. (ANTARA/Fathur Rochman) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI (Bakom RI) Fithra Faisal Hastiadi menilai komitmen Indonesia untuk mengimpor sejumlah produk dari Amerika Serikat (AS) pada prinsipnya tidak berbenturan langsung dengan produk yang dihasilkan di dalam negeri.

"Secara umum apa yang dibeli dari AS itu adalah sebenarnya produk-produk yang tidak bersinggungan langsung dengan produk-produk di dalam negeri. Itu secara umum ya, meskipun ada beberapa irisan-irisannya," kata Fithra di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026.

Ia menegaskan, pemerintah tetap melakukan pengawasan serta koordinasi lintas kementerian guna memastikan kebijakan impor tersebut tidak mengganggu kepentingan ekonomi domestik. Untuk komoditas seperti jagung dan beras, misalnya, koordinasi akan dilakukan bersama Kementerian Pertanian.

Jika dalam evaluasi ditemukan potensi gangguan terhadap produksi nasional, pemerintah memiliki ruang untuk meninjau ulang kesepakatan melalui mekanisme negosiasi.

"Kalau dianggap ini mengganggu kepentingan ekonomi lokal, ya kan kita bisa bernegosiasi lagi. Selalu ada escape clause-nya. Asalkan ini tidak melanggar national interest (kepentingan nasional)," kata dia.

Fithra menambahkan, berdasarkan pemahamannya sejauh ini, volume pembelian dari AS tidak akan berdampak signifikan terhadap produksi nasional. Ia mencontohkan beras yang diimpor dalam jumlah sangat terbatas, terlebih AS bukan produsen utama komoditas tersebut.

Baca Juga: Trump Siapkan Skema Baru Tarif Impor usai Putusan Mahkamah Agung AS

"Komitmen kita untuk membeli barang-barang tersebut adalah tidak sangat mengganggu produksi kita. Misalnya beras itu sangat limited. Karena mereka juga bukan produsen beras juga. Tidak banyak juga. Jadi tidak mengganggu secara umum kapasitas nasional," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa impor produk pertanian dari AS dengan tarif nol persen tidak akan mengancam keberlangsungan industri nasional.

Menurutnya, komoditas seperti kedelai, gandum, dan kapas merupakan bahan baku yang dibutuhkan industri dalam negeri dan tidak diproduksi secara memadai di Indonesia.

Dalam kerangka kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan AS, Indonesia memberikan fasilitas tarif 0 persen untuk sejumlah komoditas pertanian, termasuk kedelai dan gandum.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan kebijakan tersebut bertujuan menjaga daya beli masyarakat, sehingga produk turunan seperti tahu, tempe, dan mi instan tidak terbebani kenaikan biaya.

Kebijakan ini juga diharapkan menjaga stabilitas harga pangan berbasis impor, mengingat produksi kedelai dalam negeri belum mencukupi kebutuhan industri makanan nasional.

Baca Juga: Purbaya soal Impor 150 Ribu Pick-up India: Kita Ikuti Pak Dasco Saja

(Sumber: Antara) 

x|close