Ntvnews.id, Washington D.C - Gedung Putih menyampaikan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer di Iran. Trump disebut tidak ragu mengerahkan kekuatan mematikan maupun kemampuan militer AS apabila dinilai diperlukan dalam menghadapi Teheran.
“(Trump) Selalu menyatakan bahwa diplomasi adalah pilihan pertama. Namun, dia tidak takut menggunakan kekuatan mematikan dan kekuatan militer Amerika Serikat, jika dan ketika dia menganggapnya perlu,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kepada Fox News, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa, 13 Januari 2026.
“Tidak ada yang lebih tahu tentang hal itu selain rezim Iran,” lanjutnya.
Leavitt menambahkan bahwa langkah selanjutnya yang akan diambil Trump pasca pernyataan ancaman intervensi militer terhadap Iran tidak diketahui publik.
Baca Juga: Ribuan Massa Turun ke Fifth Avenue New York Protes Kebijakan Presiden Trump
“Apa yang akan dilakukan Presiden Trump selanjutnya, hanya dia yang tahu, jadi dunia harus terus menunggu dan menebak,” ujar Leavitt.
Ia juga mengungkapkan adanya komunikasi tertutup yang dijalin Iran secara langsung dengan Trump. Menurut Leavitt, pesan yang disampaikan Teheran dalam komunikasi tersebut berbeda dengan pernyataan yang mereka sampaikan secara terbuka.
“Apa yang dikatakan rezim Iran secara publik sangat berbeda dengan pesan yang mereka kirimkan kepada Amerika Serikat dan pemerintahan Trump secara pribadi,” kata Leavitt.
Arsip - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/py) (Antara)
Namun, Leavitt tidak memerinci isi komunikasi tertutup tersebut.
Di sisi lain, Iran diketahui tengah dilanda kerusuhan yang meluas dan menelan korban jiwa. Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari untuk mengenang warga yang tewas.
Pengumuman tersebut disampaikan pemerintah Iran pada Minggu, 11 Januari 2026 waktu setempat. Mereka menyebut para korban sebagai “martir gerakan perlawanan nasional Iran melawan Amerika dan rezim zionis”.
Baca Juga: Trump Tegaskan AS Akan Tindak Greenland dengan Cara Keras
“Rakyat Iran telah mengalami langsung teroris kriminal yang melancarkan kekerasan perkotaan seperti ISIS terhadap warga sipil, anggota Basij, dan pasukan keamanan, yang mengakibatkan banyak kematian, tingkat kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga saat ini,” kata Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB).
Laporan menyebutkan lebih dari 100 personel pasukan keamanan Iran tewas sejak aksi protes dimulai. Sementara itu, sekitar 500 demonstran dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 10.000 orang ditangkap dalam 15 hari terakhir, berdasarkan data kelompok hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA).
Pemerintah Iran juga menyerukan warganya untuk terus melawan Amerika Serikat dan Israel. Presiden Iran Masoud Pezekshkian mengajak masyarakat turun ke jalan pada Senin, 12 Januari 2026, dalam pawai nasional untuk mengecam kekerasan yang, menurut Iran, didalangi oleh kedua negara tersebut.
Arsip - Gedung Putihdi Washington, D.C., Amerika Serikat. (ANTARA/Xinhua/Hu Yousong/aa) (Antara)