Ntvnews.id, Taheran - Sedikitnya 109 personel aparat keamanan Iran dilaporkan meninggal dunia akibat kerusuhan yang terjadi di sejumlah wilayah negara tersebut dalam beberapa hari terakhir. Data itu hanya memuat korban dari pihak aparat, sementara jumlah korban dari kalangan demonstran tidak dirinci.
Gelombang unjuk rasa antipemerintah mengguncang Iran sejak 28 Desember, yang bermula dari Pasar Raya Teheran. Aksi tersebut dipicu merosotnya nilai tukar rial Iran serta memburuknya kondisi ekonomi, sebelum kemudian meluas ke berbagai kota lainnya.
Dilansir dari Anadolu, Senin, 12 Januari 2026, hingga kini belum tersedia angka resmi terkait total korban jiwa. Namun, sebuah lembaga pemantau hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat memperkirakan sedikitnya 116 orang tewas, dengan lebih dari 2.600 orang ditangkap selama rangkaian protes.
Baca Juga: Demo Iran Makin Ngeri, Korban Tewas Capai 217 Orang
Seorang dokter di Teheran yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa sedikitnya enam rumah sakit di ibu kota mencatat “setidaknya 217 kematian demonstran, sebagian besar akibat tembakan peluru tajam.”
Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan kemungkinan serangan terhadap Iran apabila Teheran dinilai bertindak buruk terhadap para demonstran antipemerintah.
Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)
The New York Times melaporkan bahwa Trump sedang menelaah secara serius berbagai opsi tersebut, meskipun keputusan final belum diambil.
Menurut laporan itu, sejumlah skenario yang diajukan mencakup kemungkinan serangan terhadap target non-militer di Teheran. Beberapa opsi lain juga melibatkan serangan terhadap aparat keamanan Iran yang menangani aksi protes.
Meski demikian, otoritas Amerika Serikat disebut menyadari bahwa langkah semacam itu berpotensi menimbulkan dampak berbalik, termasuk kemungkinan serangan balasan terhadap personel militer dan diplomat AS di kawasan Timur Tengah.
Demo Iran (Anadolu)