Ntvnews.id, Washington D.C - Amerika Serikat (AS) dilaporkan menawarkan insentif bernilai miliaran rupiah kepada warga Greenland yang bersedia bergabung dengan AS. Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut menjanjikan pembayaran sebesar USD 100 ribu atau sekitar Rp 1,6 miliar untuk setiap individu.
Dilansir dari Reuters, Minggu, 11 Januari 2026, rencana tersebut diungkap oleh empat sumber yang memahami pembahasan internal pemerintah AS. Mereka menyebut wacana itu muncul dalam diskusi sejumlah pejabat Washington, termasuk di lingkungan Gedung Putih.
Meski rincian teknis seperti jumlah pasti, mekanisme, serta waktu pembayaran belum dipastikan, dua sumber menyatakan kisaran dana yang dibahas berkisar antara USD 10 ribu hingga USD 100 ribu per orang. Pembayaran itu direncanakan dilakukan sekaligus dalam satu kali pencairan.
Greenland merupakan wilayah otonomi Kerajaan Denmark dengan populasi sekitar 57.000 jiwa. Jika seluruh penduduk menerima USD 100 ribu per orang, total dana yang harus dikeluarkan AS diperkirakan mendekati USD 6 miliar atau sekitar Rp 101 triliun.
Baca Juga: Trump Ngotot Caplok Greenland, Tak Peduli Lewat Cara Mudah atau Sulit
Gagasan pemberian uang tunai langsung kepada warga Greenland ini dinilai sebagai salah satu pendekatan Washington untuk “membeli” pulau strategis di kawasan Arktik tersebut. Namun, baik pemerintah Denmark maupun otoritas Greenland berulang kali menegaskan bahwa wilayah itu tidak untuk dijual.
Langkah tersebut menjadi bagian dari berbagai skema yang tengah dipertimbangkan Gedung Putih untuk mengakuisisi Greenland, termasuk kemungkinan pengerahan kekuatan militer AS. Meski demikian, pendekatan ini dinilai berisiko dianggap terlalu transaksional dan dapat dipandang merendahkan aspirasi penduduk Greenland yang selama ini mendiskusikan isu kemerdekaan serta ketergantungan ekonomi terhadap Denmark.
"Cukup sudah... Tidak ada lagi fantasi tentang aneksasi," tegas Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen dalam pernyataan di Facebook pada Minggu, 4 Januari 2025, usai Trump kembali menegaskan keinginannya menguasai Greenland.
Arsip - Perdana Menteri terpilih Greenland, Jens-Frederik Nielsen (Antara)
Trump sejak lama beralasan bahwa penguasaan Greenland penting bagi AS, antara lain karena kekayaan mineralnya yang dibutuhkan untuk teknologi dan aplikasi militer canggih. Ia juga menilai kawasan Belahan Bumi Barat seharusnya berada dalam lingkup pengaruh geopolitik Washington.
Pembahasan internal soal cara menguasai Greenland disebut telah berlangsung sejak sebelum Trump memulai masa jabatan keduanya. Namun, urgensi rencana tersebut meningkat setelah AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer pada 3 Januari lalu. Salah satu sumber Reuters menyebut para ajudan Gedung Putih ingin memanfaatkan momentum itu untuk mewujudkan agenda geopolitik Trump lainnya.
Meski demikian, jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Greenland, meskipun terbuka untuk berpisah dari Denmark, tidak berminat menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Baca Juga: NATO Terpecah Gegara AS-Greenland-Denmark
Sementara itu, enam negara anggota NATO bersama Denmark menyerukan agar kedaulatan Greenland dihormati. Dalam pernyataan bersama, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, Inggris, dan Denmark menegaskan pentingnya menjaga "kedaulatan, integritas teritorial, dan keutuhan perbatasan" Greenland.
"Greenland adalah milik rakyatnya. Hanya Denmark dan Greenland, yang berhak memutuskan hal-hal yang menyangkut soal Denmark dan Greenland," demikian bunyi pernyataan bersama para pemimpin negara tersebut.
Negara-negara NATO juga menekankan bahwa keamanan kawasan Arktik harus dijaga secara kolektif dengan menjunjung prinsip-prinsip Piagam PBB. Selain itu, para menteri luar negeri negara-negara Nordik menyatakan komitmen bersama untuk memperkuat stabilitas, keamanan, dan kerja sama di kawasan Arktik melalui peningkatan pertahanan dan pencegahan.
Foto yang diambil pada 19 Oktober 2024 ini menunjukkan pemandangan Nuuk, ibu kota Greenland, wilayah Denmark yang berpemerintahan sendiri. (Antara)