Ntvnews.id, Caracas - Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, ditangkap pasukan Amerika Serikat (AS) setelah keduanya diseret keluar dari kamar tidur mereka. Penangkapan dilakukan pada tengah malam saat pasangan itu tengah terlelap, berdasarkan keterangan dua sumber yang mengetahui jalannya operasi kepada CNN International.
Penggerebekan dan penangkapan Presiden Venezuela serta ibu negara itu dilaksanakan oleh Delta Force, satuan elite Angkatan Darat AS. Seorang pejabat Amerika Serikat menyatakan bahwa operasi penangkapan tersebut tidak menimbulkan korban dari pihak AS.
Selain pasukan operasi khusus, sebuah tim agen Biro Investigasi Federal (FBI) juga dilaporkan turut mendampingi dalam operasi penculikan Maduro, menurut sumber yang memahami detail misi tersebut.
Dilansir dari NY Times, Minggu, 4 Januari 2025, saat ini, pihak berwenang tengah menyusun rencana untuk membawa Maduro ke New York. Di kota tersebut, ia dijadwalkan menghadapi dakwaan di pengadilan federal Manhattan.
Baca Juga: Trump Klaim AS Ambil Alih Venezuela Usai Tangkap Presiden Maduro
Badan Penegakan Narkoba AS (DEA) disebut telah menyiapkan dakwaan terhadap Maduro dan sejumlah pejabat tinggi militer Venezuela selama bertahun-tahun. Dakwaan inilah yang diperkirakan akan menjadi dasar tuntutan pidana yang segera diumumkan ke publik.
Tak lama setelah Maduro dibawa paksa, Jaksa Agung AS Pam Bondi menyatakan bahwa presiden Venezuela itu akan segera berhadapan dengan kerasnya sistem peradilan Amerika Serikat.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump membuat pengumuman mengejutkan pada Sabtu, 3 Januari 2026 dengan menyatakan bahwa pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Menurut pernyataan Trump, Maduro dan istrinya dilaporkan sedang diterbangkan keluar dari wilayah Venezuela, sebagaimana dilaporkan New York Times.
AS Lancarkan Agresi Militer ke Venezuela (Reuters/Antara)
Pengumuman tersebut menjadi puncak dari tekanan intensif selama berbulan-bulan yang dilakukan pemerintahan Trump untuk menggulingkan Maduro dari kekuasaan. Melalui akun media sosial Truth Social miliknya, Trump menyebut bahwa Amerika Serikat telah melancarkan serangan skala besar terhadap Venezuela".
Ia juga menegaskan bahwa operasi militer tersebut dilakukan "bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS."
"Amerika Serikat telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan sedang menerbangkannya keluar dari Venezuela," tulis Trump dalam unggahannya.
Baca Juga: Sejumlah Warga AS Ditahan Venezuela di Tengah Tekanan Militer dan Ekonomi
Sebelum pengumuman resmi tersebut, militer AS diketahui telah melakukan serangan di Caracas dan sejumlah wilayah lain di Venezuela. Serangan itu memicu ledakan besar di pangkalan militer utama Fortuna pada Sabtu, 3 Januari 2026 pagi waktu setempat.
Sejumlah saksi mata di Caracas melaporkan terlihat kepulan asap hitam tebal membubung dari fasilitas militer Fortuna, disertai suara jet tempur yang terbang rendah di wilayah tersebut.
Arsip foto - Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyampaikan pidato setelah konferensi pers dengan anggota pers internasional di Hotel Eurobuilding di ibu kota Caracas, 15 September 2025. ANTARA/Ivan Mcgregor/Andolu/pri. (Antara)