Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji meminta tim pendamping keluarga (TPK) terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya dan risiko stunting.
Menurut Wihaji, masih terdapat keluarga yang merasa malu atau enggan mendapatkan pendampingan serta memeriksakan kesehatan anak ke posyandu karena khawatir mendapat stigma dari lingkungan sekitar akibat kondisi stunting yang dialami anaknya.
"Ada yang malu kalau dikatakan keluarga risiko stunting. Ada juga yang tidak mau membawa anaknya ke posyandu karena nanti dipersepsikan sebagai keluarga risiko stunting. Ini perlu edukasi," katanya dalam Gerakan Orang Tua Cegah Stunting (Genting) Collaboration Summit di Jakarta, Kamis, 5 November 2026.
Ia menilai pemahaman masyarakat perlu terus ditingkatkan agar keluarga tidak ragu menerima intervensi sejak dini. Upaya pencegahan, terutama sebelum anak mengalami stunting, dinilai lebih penting karena kesempatan pemulihan bagi anak yang sudah terdampak kondisi tersebut cenderung lebih terbatas.
Baca Juga: GENTING Collaboration Summit 2026: Apresiasi Kemendukbangga/BKKBN bagi Orang Tua Asuh Cegah Stunting
Selain persoalan stigma, Wihaji menyebut masih ada tantangan lain dalam upaya penanganan stunting. Salah satunya adalah anggapan sejumlah pemerintah daerah bahwa wilayahnya tidak memiliki angka stunting yang tinggi sehingga keluarga berisiko belum menjadi sasaran prioritas.
Persoalan lain yang turut membutuhkan edukasi secara berkelanjutan meliputi praktik pernikahan dini yang kerap dianggap sebagai cara untuk menghindari pergaulan bebas, serta terbatasnya akses masyarakat terhadap air bersih.
Karena itu, petugas pendamping keluarga di lapangan perlu terus memberikan pemahaman mengenai pentingnya pencegahan stunting. Langkah tersebut dapat dilakukan melalui pendampingan keluarga, pembiasaan perilaku sehat, dan pemberian intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap keluarga.
"Yang terakhir adalah membangun, meyakinkan, dan mengedukasi. Ini tantangan yang harus dihadapi para petugas di lini lapangan," ucap Wihaji.
Baca Juga: Mendes Komitmen Tuntaskan Akar Masalah Stunting dari Hulu ke Hilir
Selama dua tahun pelaksanaan program Genting, Kemendukbangga/BKKBN telah menjangkau sedikitnya 1,3 juta keluarga yang berisiko mengalami stunting. Program tersebut juga melibatkan 182.682 mitra orang tua asuh (OTA), dengan total bantuan mencapai Rp96,3 miliar hingga Oktober 2026.
(Sumber: Antara)
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji dalam acara Genting Collaboration Summit di Jakarta, Kamis, 5 November 2026. (Antara)