Ntvnews.id, Jakarta - Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) dikejutkan oleh pengunduran diri salah satu perwira menengahnya. AKBP Dr. Netty Rosdiana Siagian, yang menjabat sebagai Kepala Bagian Perencanaan dan Administrasi (Kabagrenmin) Ditreskrimum Polda Metro Jaya, secara resmi mengajukan permohonan pengunduran diri dari dinas aktif Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) terhitung sejak 1 September 2026.
Keputusan besar ini disampaikan langsung melalui pernyataan tertulis yang diterima pada Minggu. Dalam keterangannya, AKBP Netty menegaskan bahwa langkah drastis tersebut diambil setelah melalui proses kontemplasi yang mendalam.
"Dengan ini Saya mengajukan permohonan pengunduran diri dari Dinas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) terhitung sejak tanggal 01 September 2026," ujar Netty dalam unggahannya di Instagram, 1 November 2026.
Baca Juga: Polri Tunjuk Pejabat Baru untuk Posisi Kapusdokkes dan Kapuskeu
Ia juga menekankan bahwa keputusan ini murni lahir dari kesadaran pribadi tanpa ada intervensi luar.
"Permohonan ini Saya ajukan setelah melalui pertimbangan yang matang dan dengan kesadaran serta kemauan saya sendiri. Keputusan ini bukan karena adanya paksaan atau tekanan dari pihak mana pun, melainkan atas pertimbangan pribadi dan keadaan yang menurut saya mengharuskan saya untuk mengakhiri masa pengabdian saya sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri)," tambahnya.
Meski memilih untuk menanggalkan seragam Korps Bhayangkara, Netty menyampaikan rasa terima kasih atas dinamika dan kesempatan berharga yang telah ia peroleh selama bertahun-tahun mengabdi.
"Selama menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai anggota Polri, saya telah memperoleh banyak pengalaman, pembelajaran, serta kesempatan dalam memberikan pengabdian baik kepada institusi maupun kepada masyarakat," kenangnya.
Namun, di balik ucapan terima kasih tersebut, terselip alasan emosional yang menyayat hati terkait alasan di balik kepergiannya. Netty blak-blakan menyoroti adanya ketidakselarasan antara prinsip pribadi dengan realitas tatanan institusi saat ini.
"Tidak mudah meninggalkan institusi yang pernah menjadi bagian dari hidup dan pengabdian. Namun, lebih menyakitkan jika harus bertahan dalam tatanan yang tak lagi sejalan dengan hati nurani," ungkapnya tegas.
Ia menutup pernyataannya dengan kalimat reflektif yang menegaskan komitmennya terhadap integritas moral di atas jabatan struktural.
"Saya tidak pergi karena kehilangan keberanian, tetapi karena saya tidak ingin kehilangan prinsip. Saya tidak takut melepaskan jabatan, tetapi saya takut mengkhianati kebenaran yang saya yakini. Seragam bisa ditanggalkan, jabatan bisa ditinggalkan, tetapi harga diri dan hati nurani tidak boleh diperjualbelikan. Saya memilih mundur dengan luka, daripada bertahan dengan mengorbankan prinsip. Sebab pengabdian sejati bukan sekadar tentang di mana kita berdiri, melainkan tentang nilai apa yang tetap kita pertahankan." pungkasnya.
AKBP Dr. Netty Rosdiana Siagian (Instagram)