Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau proses pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan struktur dan material candi tetap mengikuti prinsip konservasi.
Upaya pemugaran dan konservasi ini bertujuan menjaga kestabilan bangunan, mempertahankan keaslian material, serta memastikan pelestarian Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia dapat terus berlangsung.
“Batu andesit tentu harus ada konservasi. Iklim kita berubah, dan kondisi hujan sekarang berbeda dengan seratus atau dua ratus tahun lalu. Karena itu, kita perlu memastikan penanganan yang tepat agar batu dan relief Borobudur tetap terjaga,” kata Fadli dalam keterangan Kementerian Kebudayaan yang diterima Antara, Kamis, 15 Oktober 2026.
Fadli menjelaskan bahwa pemugaran yasti dilakukan untuk mengembalikan kestabilan bagian puncak stupa induk yang mengalami pergeseran susunan batu. Sementara itu, konservasi Mahastupa difokuskan pada penanganan penggaraman dan pelapukan yang dapat memengaruhi ketahanan material candi.
Baca Juga: Fadli Zon Dorong UNESCO Perkuat Peran sebagai Pilar Perdamaian Dunia
Kementerian Kebudayaan melaksanakan pekerjaan tersebut melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB). Langkah ini diambil setelah pemantauan dan kajian teknis pada Agustus 2026 menemukan pergeseran susunan batu, rongga, serta rekahan pada bagian yasti dan harmika. Pemeriksaan juga mengidentifikasi kerusakan material di bagian stupa induk.
Dalam pemugaran yasti, tim berfokus memulihkan kestabilan struktur dengan mengutamakan pemakaian material asli. Adapun pekerjaan konservasi Mahastupa mencakup penanganan penggaraman, pelapukan, rongga, dan rekahan pada batu.
Penggaraman yang terlihat sebagai lapisan putih di permukaan batu dapat berkaitan dengan pergerakan air dan kandungan garam di dalam material. Karena itu, penanganannya harus menggunakan metode yang sesuai agar kerusakan tidak semakin meluas dan keaslian batu tetap dipertahankan.
“Relief-relief Borobudur yang sudah berusia lebih dari seribu tahun memerlukan penanganan yang tepat. Kita perlu memastikan perawatannya berkelanjutan, sehingga relief tetap terjaga ketajamannya dan batu tidak melunak atau mengalami kerusakan. Ini salah satu pekerjaan konservasi yang penting dan perlu dilakukan berdasarkan kajian yang cermat,” ujar Fadli.
Baca Juga: Fadli Zon Sebut Kunjungan Museum dan Cagar Budaya Meningkat hingga 400 Persen
Pelaksanaan pemugaran dan konservasi melibatkan tim gabungan dari berbagai bidang keahlian, meliputi arkeologi, konservasi, teknik sipil dan struktur, serta metalurgi. Seluruh tahapan dikerjakan secara bertahap dengan mengawali pemeriksaan, dokumentasi, dan analisis material sebelum menentukan tindakan lanjutan.
Secara historis, pemugaran besar pertama Candi Borobudur berlangsung pada 1907-1911 di bawah pimpinan Theodoor van Erp. Pemugaran besar berikutnya dilaksanakan pada 1973-1983 melalui kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan UNESCO.
Fadli juga mengajak para pengunjung untuk turut menjaga kelestarian candi dengan mematuhi aturan kunjungan dan menghindari tindakan yang berpotensi merusak batu maupun relief.
“Tentu kita juga berharap kepada pengunjung untuk ikut memelihara, tidak memegang-megang, dan tidak memberikan zat kimia, cairan, atau apa pun yang bisa merusak relief Borobudur,” katanya.
(Sumber: Antara)
Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau proses pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, Rabu, 14 Oktober 2026. (Antara)