Sudaryono Sebut MBG Turunkan Jumlah Siswa yang Berangkat Sekolah dalam Kondisi Lapar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Okt 2026, 11:43
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Kepala BGN Sudaryono (memegang mikrofon) berbincang dengan seorang siswa pada pembukaan secara serentak 980 SPPG di wilayah 3T dan stunting tinggi di Aceh Besar pada Rabu, 14 Oktober 2026. Kepala BGN Sudaryono (memegang mikrofon) berbincang dengan seorang siswa pada pembukaan secara serentak 980 SPPG di wilayah 3T dan stunting tinggi di Aceh Besar pada Rabu, 14 Oktober 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyebut pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak pada berkurangnya jumlah peserta didik yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar. Berdasarkan data penelitian yang dipaparkannya, persentase tersebut turun dari 56 persen menjadi 16 persen setelah program berjalan.

Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, menyampaikan harapannya agar angka itu terus menurun hingga tidak ada lagi anak yang harus memulai kegiatan belajar tanpa asupan makanan.

"Alhamdulillah, dengan adanya program MBG ini, dari 56 persen peserta didik yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar, turun 50 persen menjadi 16 persen. Kami berharap angka ini bisa terus turun hingga nol, sehingga tidak ada lagi anak-anak yang berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar," ujar dia dalam peresmian SPPG wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Aceh Besar, Rabu, 14 Oktober 2026.

Selain mengurangi jumlah siswa yang berangkat sekolah dalam kondisi lapar, program tersebut juga diikuti peningkatan konsumsi protein hewani. Data yang disampaikan Sudaryono menunjukkan persentasenya naik dari 26 persen sebelum MBG menjadi 84 persen setelah program diterapkan. 

Baca Juga: BGN Aktifkan Kembali 980 Dapur MBG di Wilayah 3T dan Daerah dengan Stunting Tinggi

Ia menegaskan masih terdapat anak-anak di sejumlah wilayah yang belum mendapatkan akses terhadap program tersebut. Karena itu, BGN berupaya memperluas jangkauan layanan agar seluruh peserta didik dapat memperoleh makanan bergizi di sekolah.

"Jadi, konsumsi protein hewani anak-anak kita meningkat dari 26 persen menjadi 84 persen. Masih ada 16 persen anak-anak yang wilayahnya belum tersentuh MBG. Ini menjadi tanggung jawab kami agar mereka sesegera mungkin mendapatkan haknya di sekolah masing-masing," tuturnya.

Perubahan serupa juga terlihat pada konsumsi buah dan sayur. Menurut Sudaryono, persentase konsumsi kedua kelompok pangan tersebut meningkat dari 65 persen menjadi 90 persen setelah pelaksanaan MBG.

Baca Juga: Sudaryono Ungkap Dampak MBG, Konsumsi Protein Anak Naik hingga Hampir 80 Persen

Meski akses terhadap makanan bergizi semakin luas, pembiasaan pola makan sehat tetap memerlukan edukasi yang berkelanjutan. Anak-anak perlu memahami manfaat berbagai jenis makanan agar terbiasa mengonsumsi pangan dengan gizi seimbang.

Karena itu, Sudaryono menekankan perlunya keterlibatan guru dan orang tua dalam memberikan pemahaman tentang kebutuhan gizi anak. Edukasi diharapkan dapat mendorong peserta didik mengonsumsi makanan beragam, termasuk buah dan sayuran, baik di sekolah maupun di rumah.

BGN menilai penyediaan makanan bergizi perlu disertai penguatan edukasi gizi agar manfaat program tidak hanya dirasakan melalui pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga mendukung terbentuknya kebiasaan makan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

(Sumber: Antara)

x|close