Ntvnews.id, Gaza - Konflik di Gaza telah memasuki tahun ketiga dengan jumlah korban jiwa warga Palestina yang terus bertambah. Lebih dari 74.200 orang dilaporkan meninggal dunia selama tiga tahun perang, sementara jutaan warga lainnya menghadapi dampak kemanusiaan yang berkepanjangan.
Hind Rajab, seorang anak yang meminta pertolongan dari dalam mobil yang dihujani tembakan. Refaat Alareer, penyair sekaligus guru. Khaled Nabhan, seorang kakek yang menyebut cucu perempuannya yang meninggal sebagai "belahan jiwaku." Anas al-Sharif, jurnalis yang tetap melaporkan situasi dari Gaza bagian utara.
Keempatnya merupakan sebagian kecil dari puluhan ribu warga Palestina yang kehilangan nyawa selama konflik. Bagi mereka yang selamat, penderitaan tidak berhenti pada kehilangan anggota keluarga maupun luka fisik.
Banyak keluarga harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari keselamatan. Orang tua kehilangan sumber penghasilan, sedangkan anak-anak menjalani masa pertumbuhan di tengah pengungsian, kekurangan makanan, serta rusaknya sekolah dan fasilitas kesehatan.
Gencatan senjata yang diberlakukan pada Oktober 2025 memang menurunkan intensitas pertempuran. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghentikan jatuhnya korban maupun memungkinkan sebagian besar warga Gaza kembali ke tempat tinggal mereka.
Data yang dihimpun dan dikutip Anadolu pada Kamis, 8 Oktober 2026 menunjukkan besarnya dampak kemanusiaan yang terjadi selama konflik.
Puluhan ribu tewas dan ratusan ribu terluka
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 74.237 kematian dan 175.206 kasus cedera hingga 4 Oktober 2026.
Jumlah korban meninggal yang tercatat tersebut setara dengan sekitar 3,4 persen dari jumlah penduduk Gaza sebelum perang yang diperkirakan mencapai 2,2 juta jiwa. Artinya, sekitar satu dari setiap 30 penduduk Gaza telah meninggal dunia.
Baca Juga: Pidato di PBB, Trump Ucap Terima Kasih ke Indonesia soal Gaza
Berdasarkan data OCHA, dari 71.444 korban meninggal yang identitas usia dan jenis kelaminnya telah diketahui hingga 31 Desember 2025, sebanyak 47,7 persen merupakan laki-laki. Anak-anak menyumbang 29,8 persen, perempuan 15,4 persen, sedangkan warga lanjut usia mencapai 7,1 persen.
Pada Oktober 2023, bulan pertama perang, sebanyak 8.805 warga Palestina tercatat meninggal berdasarkan data Klaster Kesehatan WHO.
Selain korban yang telah terdata, ribuan warga Palestina lainnya diperkirakan masih hilang dan berada di bawah reruntuhan bangunan. Hemaya Center for Human Rights dalam pernyataan pada 3 Oktober menyebut telah mencatat kematian 21.745 anak dan sekitar 46 ribu kasus cedera pada anak sejak Oktober 2023. Dari jumlah tersebut, sekitar 11 ribu anak mengalami amputasi anggota tubuh bagian bawah.
Pusat tersebut juga mencatat 123 anak meninggal akibat kekurangan gizi dan dehidrasi. Selain itu, sebanyak 293 bayi prematur meninggal dunia di tengah memburuknya kondisi layanan kesehatan, pemadaman listrik, serta keterbatasan obat dan kebutuhan medis.
Dampak kehilangan anggota keluarga bahkan telah terlihat sejak tahun pertama konflik. Survei Palestinian Center for Policy and Survey Research yang dilakukan pada 26 Mei hingga 1 Juni 2024 menunjukkan 61 persen responden di Gaza memiliki anggota keluarga yang meninggal. Sementara itu, sekitar 78 persen mengatakan ada kerabat mereka yang meninggal atau terluka.
Survei tersebut dilakukan di wilayah Gaza tengah dan selatan yang dapat dijangkau, tetapi tidak mencakup wilayah utara serta daerah yang masih menjadi lokasi pertempuran aktif.
Sebagian besar penduduk kehilangan tempat tinggal
Ilustrasi kerusakan infrastruktur Jalur Gaza. (Antara)
Kerusakan besar pada sektor perumahan menjadi salah satu persoalan kemanusiaan jangka panjang yang harus dihadapi warga Gaza.
PBB memperkirakan sekitar 1,9 juta warga Palestina atau 90 persen dari total populasi Gaza telah mengalami pengungsian selama perang. Banyak dari mereka bahkan harus berpindah tempat berulang kali.
Situasi tersebut menjadi semakin sulit karena sebagian besar keluarga tidak memiliki rumah untuk kembali. Banyak tempat tinggal hancur atau mengalami kerusakan sehingga tidak lagi aman dihuni.
Penilaian bersama Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa yang diterbitkan pada April mencatat 371.888 unit rumah mengalami kerusakan atau kehancuran. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 77 persen dari seluruh persediaan perumahan di Gaza berdasarkan kondisi hingga Oktober 2025.
Sementara itu, Biro Pusat Statistik Palestina melaporkan sekitar 201.290 bangunan rusak hingga 16 Juni 2026. Angka tersebut mencapai sekitar 82 persen dari seluruh bangunan di Gaza, dengan 134.422 bangunan di antaranya mengalami kehancuran total.
Berdasarkan penilaian Shelter Cluster yang dikutip OCHA dan menggunakan data survei Juni, sekitar 94 persen warga Gaza membutuhkan bantuan tempat tinggal serta perlengkapan rumah tangga dasar. Saat itu, hingga 65 persen keluarga masih tinggal di tenda atau tempat tinggal darurat yang hanya memberikan perlindungan terbatas dari kondisi cuaca.
Kondisi tempat tinggal yang tidak layak, minimnya perlindungan terhadap cuaca, serta terbatasnya akses terhadap layanan dasar meningkatkan risiko kesehatan dan keselamatan bagi keluarga-keluarga yang mengungsi.
Lebih dari separuh keluarga yang tinggal di tenda bahkan telah menggunakan tenda yang sama selama lebih dari satu tahun. Sementara itu, lebih dari separuh tenda dan tempat tinggal darurat yang diperiksa berada dalam kondisi buruk hingga sangat buruk.
OCHA juga menemukan ratusan lokasi pengungsian yang rawan banjir. Kondisi tersebut semakin meningkatkan ancaman terhadap ratusan ribu warga yang masih bertahan di tempat-tempat penampungan sementara.
Kehancuran ekonomi dan hilangnya pekerjaan
Ilustrasi - Warga Palestina berlarian saat asap membubung di tengah puing-puing dan kehancuran di Kawasan Industri Jalan Al-Sinaa, sebelah barat Kota Gaza, (12/7/2026). (Antara)
Perang juga menghancurkan sumber penghidupan masyarakat Gaza. Sebagian besar kegiatan ekonomi mengalami gangguan akibat kerusakan infrastruktur dan berkurangnya aktivitas usaha.
Laporan UN Trade and Development yang diterbitkan pada 24 September memperkirakan 92 persen unit usaha ekonomi di Gaza mengalami kerusakan atau kehancuran sejak Oktober 2023. Konflik tersebut juga menghilangkan ratusan ribu pekerjaan serta pendapatan tenaga kerja yang nilainya mencapai miliaran dolar di seluruh wilayah pendudukan Palestina.
Tingkat pengangguran di Gaza mencapai 78 persen. Lebih dari 90 persen penduduk usia produktif juga tidak memiliki pekerjaan.
Produksi ekonomi tahunan per kapita pada 2025 turun menjadi 212 dolar AS, atau hanya sekitar 17 persen dari level pada 2022.
Pada tahun yang sama, harga barang tercatat 274 persen lebih tinggi dibandingkan 2022. Kenaikan paling terasa pada sejumlah kebutuhan pokok, termasuk kentang dan gas untuk memasak, yang harganya meningkat beberapa kali lipat.
Krisis tersebut memukul hampir seluruh sektor produktif. Produksi pertanian dan industri masing-masing turun hingga 94 persen dibandingkan level 2022, sedangkan sektor konstruksi mengalami kemerosotan hingga 99 persen.
Kelaparan dan ketergantungan bantuan
Kerusakan lahan pertanian serta hilangnya pendapatan membuat kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pangan semakin terbatas.
UN Trade and Development memperkirakan kurang dari 1,5 persen lahan pertanian Gaza yang masih dapat diakses dan berada dalam kondisi tidak rusak.
"Ketahanan pangan sepenuhnya bergantung pada bantuan. Sebagian besar penduduk Gaza, termasuk anak-anak serta ibu hamil dan menyusui, menghadapi kerawanan pangan akut dan malnutrisi," demikian bunyi laporan UN Trade and Development.
Kondisi tersebut juga mengancam tumbuh kembang anak-anak.
"Anak-anak di bawah usia lima tahun berisiko mengalami kerusakan permanen, termasuk stunting (tengkes), gangguan kognitif, dan hambatan perkembangan yang membahayakan kesehatan jangka panjang mereka," peringatan laporan tersebut.
Korban tetap berjatuhan setelah gencatan senjata
Pemberlakuan gencatan senjata sejak Oktober 2025 belum sepenuhnya mengakhiri jatuhnya korban jiwa di Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza masih melaporkan adanya warga Palestina yang meninggal maupun terluka.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, sedikitnya 1.460 warga Palestina meninggal dan 5.116 lainnya mengalami luka-luka. Selain itu, sebanyak 835 jenazah telah ditemukan.
Di sektor kesehatan, lebih dari separuh rumah sakit dan klinik layanan kesehatan primer di Gaza masih tidak beroperasi berdasarkan penilaian yang dikutip UN Trade and Development.
Sektor pendidikan juga mengalami kerusakan besar. UNICEF mencatat hampir 98 persen bangunan sekolah di Gaza mengalami kerusakan sejak Oktober 2023. Dari jumlah tersebut, lebih dari 93 persen membutuhkan perbaikan besar atau pembangunan kembali secara menyeluruh.
Sekitar 541 ribu siswa kembali mengikuti kegiatan belajar pada September berdasarkan data Palestina. Namun, sebagian besar harus belajar di ruang kelas darurat dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Kondisi itu terjadi setelah pendidikan anak-anak Gaza terputus selama bertahun-tahun. UNICEF memperkirakan sekitar 700 ribu anak berusia 4 hingga 17 tahun kehilangan akses terhadap pendidikan tatap muka formal selama tiga tahun berturut-turut. Dari jumlah tersebut, sekitar 420 ribu anak sama sekali tidak memperoleh pembelajaran tatap muka.
Untuk memulihkan kondisi Gaza, UN Trade and Development memperkirakan kebutuhan dana rekonstruksi dan pemulihan mencapai 71,5 miliar dolar AS. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring ditemukannya kerusakan baru.
Orang-orang ikut serta dalam sebuah aksi unjuk rasa untuk memprotes rencana Israel atas pemindahan paksa di Kota Gaza, Palestina, Kamis (23/7/2026) (Antara)