Ntvnews.id, New York - Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina, Francesca Albanese, membandingkan argumen yang digunakan untuk membenarkan pembunuhan anak-anak di Jalur Gaza dengan alasan yang pernah dikemukakan pejabat Nazi saat Holocaust.
Albanese menyampaikan tanggapan tersebut melalui unggahan di platform X pada Sabtu, 29 September 2026. Pernyataan itu merespons komentar model Israel, Sarai Givaty, dalam wawancara dengan stasiun televisi berbahasa Ibrani, i24NEWS.
Dalam wawancara tersebut, Givaty mengatakan dirinya tetap merasa sedih melihat anak-anak Palestina yang menjadi korban konflik. Namun, ia juga menyampaikan pandangan bahwa anak-anak tersebut berpotensi tumbuh menjadi teroris apabila tidak ada tindakan terhadap mereka.
"Apakah mungkin bagi saya untuk tidak merasa sedih atas setiap anak yang menangis di dunia?" kata Givaty.
"Saya sedih. Tetapi saya juga menyadari bahwa jika kita tidak bertindak, anak ini akan tumbuh menjadi teroris," lanjutnya.
Albanese kemudian membagikan potongan wawancara tersebut melalui akun X miliknya. Ia menanggapi pernyataan Givaty dengan membandingkannya dengan argumen yang menurutnya pernah digunakan pejabat Nazi dalam persidangan Nuremberg untuk membenarkan pembunuhan anak-anak Yahudi selama Holocaust.
Baca Juga: 200 Sineas Israel Dukung Film NAZA soal Operasi Militer di Gaza
"(Anak-anak akan tumbuh dewasa.) Ini juga merupakan argumen yang digunakan oleh para pejabat Nazi selama persidangan Nuremberg untuk membenarkan mengapa mereka membunuh anak-anak selama Holocaust," tulis Albanese seperti dikutip Middle East Monitor (MEMO).
Pernyataan tersebut kembali memperlihatkan sikap kritis Albanese terhadap kebijakan dan operasi militer Israel di Jalur Gaza. Selama konflik berlangsung, ia telah menyampaikan berbagai laporan dan pernyataan mengenai situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina.
Sikap Albanese terhadap Israel juga sebelumnya mendapat tekanan dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Pada Juli 2025, Washington menjatuhkan sanksi terhadap Albanese terkait upayanya mendorong Mahkamah Pidana Internasional mengambil tindakan terhadap pejabat, perusahaan, serta eksekutif dari AS dan Israel.
Pemerintah AS juga sebelumnya meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mencopot Albanese dan menuduhnya melakukan "antisemitisme".
Sementara itu, jumlah anak yang menjadi korban perang di Gaza turut menjadi sorotan. Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan lebih dari 21.500 anak telah tewas sejak konflik dimulai pada Oktober 2023. Angka tersebut merupakan klaim dari otoritas Gaza dan tidak secara independen diverifikasi dalam laporan tersebut.
"Pendudukan terus menumpahkan darah orang-orang tak berdosa, khususnya anak-anak. Jumlah anak yang tewas sejak dimulainya perang genosida pada 7 Oktober 2023 telah melampaui 21.500 jiwa per 24 Agustus," kata kantor tersebut.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut jumlah korban tersebut sebagai "korban yang dahsyat" dan menggambarkannya sebagai "kebrutalan kejahatan terorganisir ini".
Orang-orang ikut serta dalam sebuah aksi unjuk rasa untuk memprotes rencana Israel atas pemindahan paksa di Kota Gaza, Palestina, Kamis (23/7/2026) (Antara)