Ntvnews.id, Jakarta -Pakistan mendesak Amerika Serikat dan Iran untuk segera kembali ke meja perundingan berlandaskan kesepakatan yang dimediasi oleh Islamabad. Langkah diplomasi ini terus didorong meski membentur benteng ketidakpercayaan yang membendung implementasi perjanjian di antara kedua negara.
Imbauan tersebut ditegaskan oleh Duta Besar Pakistan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Asim Iftikhar Ahmad, dalam wawancara yang dipublikasikan oleh media berbasis di Abu Dhabi, The National, pada Kamis (10/9).
Memorandum Islamabad yang disepakati pada Juni lalu melalui mediasi beruntun dari Pakistan dan Qatar menggarisbawahi tiga poin vital: penghentian aksi permusuhan, penetapan tenggat 60 hari guna merumuskan resolusi konflik permanen, serta pembukaan kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Namun, dinamika di lapangan masih diwarnai saling tuduh. Tehran menilai Washington abai menjalankan poin-poin krusial, khususnya menyangkut pelonggaran sanksi ekonomi dan blokade angkatan laut. Di sisi lain, AS bersama negara-negara kawasan Teluk terus menuntut jaminan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Kendati mengakui adanya keengganan dalam mengeksekusi poin-poin kesepakatan, Ahmad memastikan pihaknya tidak berhenti menjalin komunikasi intensif dengan kedua belah pihak.
“Kami memiliki jalur komunikasi yang terbuka dengan kedua pihak, baik Iran maupun AS, dan komunikasi tersebut berlangsung di tingkat tinggi,” katanya.
Ahmad menegaskan bahwa pemulihan dialog diplomatik merupakan satu-satunya formula realistis untuk mengakhiri eskalasi serta memformalkan perjanjian yang komprehensif.
“Untuk itu, kami memiliki kerangka dalam Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad. Semuanya sudah ada. Mereka perlu kembali (berunding) … dan saya berharap mereka segera menyadari hal itu,” ucapnya.
Saat didesak mengenai aktor utama yang menghambat proses perundingan, Ahmad enggan menunjuk hidung. Ia menilai komplikasi geopolitik yang terjadi terlalu rumit untuk sekadar menyalahkan salah satu pihak.
Meski jalan menuju perdamaian terjal, Pakistan optimistis bahwa pendekatan meja perundingan tetap menjadi satu-satunya jalur yang berkelanjutan untuk menghentikan konfrontasi bersenjata di kawasan tersebut.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Bendera Pakistan diantara bendera Amerika Serikat dan Iran. Pakistan pada hari Kamis (30/7/2026) menyatakan sedang berupaya (Antara)